My Ice Prince Myungsoo [ Part 8 ]

Untitled-2

• Title : My Ice Prince Myungsoo Part 8
• Script Writer : KSKsayA
• Main Cast : #Bae Suzy #Kim Myungsoo
• Support Cast : Find by your self
• Genre : Marriedlife, Romance, Etc.
• Rating : PG-18
• Length : Short Story/ Short Chapter
• Disclaimer : Just Fiction 

Previous Part : [Part 7] , [Part 6] , [Part 5] , [Part 4] , [Part 3] , [Part 2] , [Part 1]

==Part 8==

Entah sudah berapa jam lamanya Suzy duduk diatas lantai tepat didepan pintu kamar tamu dengan kedua lutut yang ia tekuk sedikit keatas. Kepalanya ia tenggelamkan dalam-dalam disela-sela lututnya, berharap ketika ia mengangkat kepala, Myungsoo sudah membuka pintu dan mau mendengarkan setidaknya sedikit penjelasan darinya.
Suzy menghela nafas lega. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungannya karena ia tak menemukan mobil Myungsoo terparkir di garasi dan itu artinya Myungsoo belum pulang, suaminya benar-benar lembur, pikir Suzy.
Kedua kakinya melangkah panjang kedepan, tujuan utamanya adalah kamar, ia harus segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur atau paling tidak pakaian rumah sebelum nantinya Myungsoo tiba-tiba datang dan melihat Suzy.
Suzy memutar knop pintu kamar miliknya juga Myungsoo, ia melangkah pelan masuk kedalam kamarnya yang gelap saat pintunya sudah ia buka, tangan kirinya bergerak menghidupkan lampu kamar.
“Apa harimu menyenangkan?”
Suzy tercengang, buru-buru ia memutar kepalanya mencari arah sumber suara yang baru ia dengar, matanya terbelalak kaget saat kedua bola matanya menangkap sesosok laki-laki yang dengan jelas Suzy tau siapa laki-laki itu.
“My..Myungsoo..mobilmu..itu..tapi…” Suzy tak dapat mengucapkan kalimatnya dengan sempurna karena takut dan kaget.
“Pecah”
“Dan aku meninggalkannya dibengkel lalu pulang dengan taksi” jawab Myungsoo datar.
“Myungsoo, emm..itu..aku tadi…” Suzy menahan bicaranya, matanya menatap lurus punggung Myungsoo yang perlahan mulai meninggalkan kamar, laki-laki itu tak mau mendengar penjelasan Suzy.
“Dia marah” Suzy mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan wajah yang tertunduk lesu. Ia memutar badannya kebelakang saat tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang ada dibelakang tubuhnya.
“Myungsoo..” gumam Suzy sembari menatap sebuah kotak pembungkus HP dengan segel yang masih utuh serta 10 tangkai mawar merah yang sudah dirangkai indah menjadi satu.
“Dia tau angka favoritku” gumamnya lagi sembari menghirup dalam-dalam mawar tersebut.

Suzy memutar knop pintu kamar tamu dengan ragu, lagi, ia menghela nafasnya pelan saat melihat Myungsoo melakuan aksi pura-pura tidur saat mendengar suara pintu terbuka yang ia ciptakan, ini sama persis seperti apa yang pernah ia lakuan saat dulu ia marah pada Myungsoo. Ia melangkahkan kakinya pelan mendekat kemudian merebahkan tubuhnya tepat disamping tubuh Myungsoo.
“Kau pura-pura tidur” Suzy memutar tubuhnya kesamping sembari memeluk erat tubuh Myungsoo dengan tangan kirinya.
“Setidaknya kau harus mendengar penjelasanku dulu” Suzy semakin mengeratkan pelukannya sembari menatap wajah Myungsoo yang begitu dekat dengannya.
“Aku suka mawarnya, kau beli dimana?” tangan kiri Suzy kini memainkan kaos longgar yang Myungsoo kenakan.
“Lalu handphone itu..kau juga membelikannya untukku? Aku bahkan tak memintamu untuk menggantinya” tambah Suzy.
“Myungsoo..kau tidak kasian pada istrimu ya?” Suzy menggoyang-goyangkan tubuh Myungsoo pelan dengan wajah frustasi melihat Myungsoo sama sekali tak merespon ucapannya.
“Myungsoo..buka matamu sebentar sa”
“Aku ingin sendiri” Myungsoo menyerukan suaranya dengan tiba-tiba membuat Suzy tak dapat melanjutkan kalimatnya.
“Sebentar saja..dan berbicaralah denganku” mohon Suzy dengan nada suara yang terdengar putus asa.
“Kau atau aku yang pindah?” ucap Myungsoo datar masih dengan posisi tubuh yang sama namun dengan kedua matanya yang kini sudah terbuka, membalas tatapan mata Suzy dengan tajam.
“Myungsoo..kumo”
“Baiklah, biar aku yang pindah” Myungsoo segera membangkitkan tubuhnya dari ranjang dan perlahan meninggalkan ranjang tidurnya.
“Tunggu” Suzy buru-buru menarik kaos Myungsoo sebelum ia benar-benar pergi.
“Biar aku yang pindah” Suzy segera bangkit dan perlahan melangkahkan kakinya keluar kamar dan menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat.
Suzy memutar badannya kebelakang, menatap pintu yang baru saja ia tutup dengan tatapan sedih kemudian mendudukkan tubuhnya di atas lantai sembari menyandarkan punggungnya pada permukaan pintu.

Kreett..
Suzy mengangkat kemudian memutar kepalanya kebelakang dengan cepat saat mendengar suara seperti pintu yang dibuka, namun helaan nafas panjang kembali Suzy keluarkan, bukan Myungsoo.

===

Suzy menghentikan aktivitasnya yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan saat mata dan telinganya menangkap suara pintu kamar tamu yang mulai terbuka kemudian menampakkan sosok Myungsoo yang keluar dari dalam sana dengan pakaian kantor seperti biasa sudah melekat ditubuhnya. Suzy menghampiri Myungsoo dengan ragu namun pasti, kedua tangannya menarik dasi yang masih terselempang bebas dikerah kemeja putih Myungsoo. Kebiasaan Myungsoo yang baru Suzy sadari belakangan ini.
“Selesai” ucap Suzy setelah ia selesai memasangkan dasi untuk suaminya.
“Aku berangkat” ucap Myungsoo singkat dan berjalan pergi.
“Kim Myungsoo…Setidaknya hargai istrimu yang sudah bangun pagi hanya untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya” Suzy berteriak kecil berharap suaranya terjangkau oleh pendengaran Myungsoo yang namun gagal karena laki-lai itu sudah berlalu pergi dengan cepat.
“Kau bahkan melupakan salam perpisahan yang biasa kau berikan untukku sebelum kau pergi” Suzy bergumam pelan sembari menatap sedih kepergian Myungsoo.

“Enak” Suzy tersenyum puas merasakan hasil masakannya yang juga sudah tertata dengan rapi di atas meja makan. Senyumnya kian merekah saat telinganya samar-samar mendengar suara mobil Myungsoo yang memasuki halaman parkir rumahnya.
“Kau sudah pulang?” Suzy menyambut kedatangan Myungsoo dengan senang saat suaminya sudah masuk kedalam.
“Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu” senyum Suzy kian merekah lebar saat ia mengucapkan kalimatnya sembari menunjukkan pada Myungsoo hasil masakannya.
“Aku tidak lapar” ucap Myungsoo singkat namun berhasil membuat senyum lebar dan indah yang sejak tadi terlihat dibibir Suzy memudar seketika.
Myungsoo tak mengindahkan reaksi Suzy, ia segera meninggalkan ruangan tersebut, masuk kedalam kamar tamu dan menguncinya rapat-rapat.
“Apa kau sudah makan di luar?” Suzy menyusul Myungsoo dan mengetuk pintu yang sudah tertutup tersebut beberapa kali.
“Aku memasak didapur hampir 3 jam lamanya hanya untuk menyiapkan itu semua untukmu”
“Myungsoo…” Suzy kembali menyulang ketukannya.
“Jari manisku bahkan teriris pisau saat memotong sayur tadi” suara Suzy mulai memelan namun terdengar sedikit getaran didalamnya.
“Kau tau bagaimana rasanya disaat kita sudah menyiapkan sesuatu dengan sepenuh hati untuk orang yang kita cintai ataupun sayangi tapi ternyata orang itu tidak menerimanya ataupun menyukainya ataupun menghiraukannya?” Suzy menundukkan kepalanya, tangan kanannya mengusap pelan kedua matanya yang sedikit basah.
“Dan apa kau tau bagaimana rasanya dibohongi oleh istrimu sendiri?”
Suzy menatap sepasang kaki yang berpijak di lantai tepat di depan kedua kakinya. Ia mengangkat kepalanya keatas dan menatap Myungsoo dengan mata sedikit berkaca menahan tangis yang sejak tadi ia tahan.
“Kau membohongiku Suzy, demi Junho”
“…” Suzy menatap dalam mata Myungsoo dalam diam.
“Aku tidak suka dibohongi”
“Aku minta maaf, hiks..hiks” Suzy tak dapat menahan tangisnya.
“Bagiku kejujuran adalah kunci dalam sebuah hubungan”
“Myungsoo..hiks..hiks..” Suzy melangkah sedikit maju dan meraih tubuh Myungsoo untuk dipelukknya.
“Aku tau kesalahanku, hiks..hiks..tapi kumohon berhenti memusuhiku seperti ini, hiks..hiks..” Suzy semakin mempererat pelukannya.
“Aku berusaha keras untuk memusuhimu,,” Myungsoo menggantung kalimatnya.
“Tapi kau pasti tau aku tidak akan pernah bisa” Myungsoo membalas pelukan Suzy dengan begitu erat.
“Karena aku sangat mencintaimu Suzy”
“Maafkan aku”
“Apa aku begitu egois?” Myungsoo dapat merasakan gelengan kepala Suzy di atas dada bidangnya.
“Atau terlalu berlebihan?”
“Sedikit, hanya sedikit, tidak banyak” Suzy mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Myungsoo.
“Jangan berbohong, bilang saja banyak, aku tak apa” Myungsoo tersenyum sembari menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi istrinya.
“Aku tak akan menemui Junho lagi karena kau melarangku”
“Benarkah?”
“Emm” Suzy mengangguk.
“Diluar kau mengangguk tapi didalam kau mengumpat”
“Myungsoo..”
“Aku tidak pernah melarangmu menemui laki-laki yang katamu adalah sahabat terbaikmu itu, hanya saja saat kau bersamaku, bukan berdua seperti kemarin Suzy” jelas Myungsoo membuat Suzy tersenyum lebar dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Itu sudah lebih dari cukup” ucap Suzy kemudian masih dengan tersenyum.
“Mana jari manismu?”
“Eoh?”
“Yang teriris pisau”
“Ah, ini” Suzy mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan jari manisnya yang teriris pisau tadi di depan Myungsoo.
“Appo?” Myungsoo meraih jari manis tangan kiri Suzy dan memperhatikan luka bekas irisan yang tak terlalu dalam itu dengan teliti.
“Ne..” ucap Suzy dengan nada yang sedikit dibuat manja sembari mengangguk kencang membuat Myungsoo tertawa geli.
Cupp..
Myungsoo mengecup lembut luka di jari manis Suzy.
“Apa sakitnya masih terasa?” tanya Myungsoo. Namun pertanyaannya itu hanya dibalas oleh cekikikan geli oleh Suzy,
“Apa Kim Myungsoo bisa berbuat seperti itu?”
Myungsoo menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Suzy.
“Kau sedang menantangku?”
“An..aniyo..” jawab Suzy gugup saat Myungsoo perlahan menarik pinggangnya kedepan dengan kedua tangannya. Suzy memejamkan matanya saat bibir Myungsoo yang lembut dan hangat mendarat di keningnya kemudian bibirnya, lama.
“Itu untuk salam perpisahan yang harusnya kuberikan padamu tadi pagi” Myungsoo tersenyum lembut sedangkan Suzy hanya menganggukkan kepalanya sembari terus menatap wajah Myungsoo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tajam menusuk, namun tetap lembut dan romantis bagi Suzy, hanya bagi Suzy bukan bagi orang lain. Mungkin orang lain akan menganggapnya sebagai tatapan tajam menusuk yang jauh dari kata romantis atau malah menakutkan?
“Seberapa besar kau mengetahui segala sesuatu tentangku?”
“Sebesar yang kau mau”
“Kalau begitu, kau tau seberapa besar aku mencintaimu?”
“Yang pasti tak sebesar cintaku untukmu” ucap Myungsoo membuat Suzy tersipu malu oleh jawaban mantap yang Myungsoo ucapkan. Suzy menjinjitkan kakinya, kedua tangannya meraih leher Myungsoo kemudian mengecup lembut bibirnya sedangkan kedua tangan Myungsoo semakin mengeratkan pelukannya dipinggang Suzy, membalas setiap sentuhan yang Suzy berikan pada bibirnya. Saling mengecup, saling menyesap, saling melumat dan saling memainkannya dengan penuh kelembutan sebagai ungakapan atas perasaan mereka masing-masing.

Kreeookk..Kreeookk..
Suzy dan Myungsoo sama-sama membuka kedua matanya dan melepaskan tautan bibir mereka. Myungsoo menatap sayang mata indah Suzy. Tangan kanannya terulur kedepan mengusap lembut bibir merah Suzy sembari menyengir lebar pada istrinya sebelum kemudian ia menggiring istrinya duduk ke meja makan.
“Aku ingin makan masakanmu” Myungsoo memposisikan dirinya duduk disebelah Suzy.
“Kau bilang tadi tidak mau makan”
“Perutku lapar sekali”
“Tapi tadi kau bilang kalau kau tidak lapar”
“Dari tadi pagi perutku sama sekali tak tersentuh makanan Suzy”
“Kenapa menolak saat tadi aku mengajakmu makan kalau begitu?”
“Mempertahankan harga diri, bukankah tadi itu ceritanya aku masih marah denganmu ya?”
“Lapar pun masih sempat memikirkan harga diri?” Suzy mendesis pelan menatap wajah Myungsoo.
“Kapan kita mulai makan?” Myungsoo mengusap perutnya beberapa kali yang sudah berbunyi minta diisi sejak tadi.

“Drama kesukaanmu” Myungsoo menatap Suzy yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambut panjangnya yang basah sehabis keramas.
“Eoh? Sudah Mulai?” Tanya Suzy sembari menatap layar besar televisi yang menempel disalah satu dinding kamarnya dan Myungsoo.
“Baru saja, kemarilah” Myungsoo merentangkan tangannya lurus kesamping sebagai isyarat agar Suzy mendekat. Ia menepuk-nepuk sisi kasur sebelah kanannya yang kosong bermaksud agar Suzy duduk disebelahnya. Suzy mengangguk kemudian duduk disebelah Myungsoo dengan sebelah badannya ia sandarkan pada kepala ranjang, sama seperti Myungsoo.
“Hari ini episode keberapa? Aku ketinggalan banyak episodenya karena kau mengajakku ke Jepang kemarin”
“Akan kubelikan DVD-nya jika dramanya sudah tamat” Myungsoo memutar sedikit kepalanya kekanan, mengecup puncak kepala Suzy dan menghirup dalam-dalam aroma shampoo yang masih melekat di rambut kepala Suzy.
“Tapi rasanya akan berbeda menonton di TV dengan menonton di DVD Myungsoo..”
“Apa bedanya?”
“Sulit untuk kujelaskan”
“Lalu bagaimana? Kau ingin aku memutar waktu hanya agar kau bisa menonton dramamu?” Myungsoo mengacak pelan puncak kepala istrinya.
“Aku menyesal, harusnya sewaktu menginap di hotel aku menyempatkan diri menonton TV”
“Wooyoung..”
“Wooyong? Ada apa dengan temanmu?”
“Kau harus melihat pesan text kirimannya” Myungsoo meraih ponselnya yang ia letakan diatas bed side table nya.
“Tungguuu” Suzy menahan tangan Myungsoo.
“Tidak harus sekarang kan aku membacanya? Biarkan aku fokus pada drama kesayanganku dulu, ne? ne? ne? Jangan ganggu aku dulu, ne?” Suzy mengedip-ngedipkan kedua matanya membuat Myungsoo tersenyum geli dan menghadiahan Suzy sebuah kecupan singkat dibibirnya. Myungsoo kemudian merosotkan tubuhnya ke bawah, membaringan tubuhnya di samping pinggang Suzy kemudian melingkarkan tangan kirinya dengan erat disana, membiarkan Suzy memberikan fokusnya pada drama kesayangannya itu.
“Bangunkan aku kalau kau sudah selesai dengan dramamu” perintah Myungsoo kemudian mulai memejamkan matanya.

==TBC==

Iklan

63 thoughts on “My Ice Prince Myungsoo [ Part 8 ]

  1. Aaah,.so sweet,.:*
    myungsoo oppa klw lgi marah/ cemburuan kyak ank kecil,mogok mkan,ckckc
    tp klw dh baikn ajh minta di tmani mkan,hahahaee cucok bingiitz ni couple,.like deh thor,.

    Fighting thor,!!!;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s