Our Bad or Good Marriage Life?? [Twoshoot-Part 1]

our-bad-or-good-marriage-life

• Title : Our Bad or Good Marriage Life?? Part 1
• Script Writer : Kim Soo Kyung
• Main Cast : #Bae Suzy #Kim Myungsoo
• Support Cast : #Park Jiyeon #Choi Minho #Etc
• Length : Twoshoot
• Genre : Marriage Life, Romance, Etc.
• Disclaimer : Karena Jiyeon dan Suzy juga Minho dan Myungsoo ceritanya kakak adik jadi anggap aja marga mereka sama ya ^^

==Check This Out==

“Kalian kami jodohkan! Besok kalian menikah bersamaan dengan pernikahan Jiyeon dan Minho!” ucap appa Suzy dan Jiyeon ditengah pertemuan 2 buah keluarga dirumah Myungsoo. Keluarga Bae dan Keluarga Kim.
“Menikah? Dengannya? Andwaeeee!!” teriak Suzy dan Myungsoo secara bersamaan.
“Yaakk Kim Myungsoo! Minho saja tidak menolak pernikahannya dengan Jiyeon kenapa kalian menolaknya?” sahut appa Myungsoo dan Minho.
“Yaakk appa itu karena mereka memang pacaran dan saling mrncintai! Aku dengannya? Bahkan kenal saja belum! Kembali ke Korea disuruh melakukan hal konyol seperti ini, cihh aku tak sudi! Lebih baik aku menetap selamanya di Jerman!” protes Myungsoo.
“Yaakkk kau pikir aku juga sudi menikah denganmu? Tata kramamu sungguh memalukan! Eomma.. appa aku tak mau! Unnie.. bila kau ingin menikah menikahlah, jangan ajak-ajak aku!” sahut Suzy kemudian.
“Aisshh siapa yang mengajakmu? Ini murni kemauan orang tua kita” jawab Jiyeon.
“Myungsoo, terima saja! Suzy tidak buruk dia yeoja yang baik, aku mengenalnya Myungsoo-ah. Jangan membuat hal mudah menjadi sulit!” nasihat Minho.
“Terserah apa kata kalian! Ini adalah keputusan permanen untuk mempererat hubungan 2 buah perusahaan, ingat kalian berempat akan menikah besok! Persiapan sudah 100% dan kalian tinggal menunggu beres!” tandas Tn. Bae.

===
Hari pernikahan 2 pasang pengantin yang cantik dan tampan tersebut akhirnya tiba. Semua mereka lakukan secara bersama. Janji suci dihadapan Pastur telah mereka ucapkan. Saling menyematkan cincin di jari pasangan masing-masing pun juga telah dilakukan.
Cium.. cium.. cium..
Teriak para tamu undangan kepada 2 pasang pengantin tersebut. Disaat pasangan pengantin 1 dengan senang hati melakukannya hal ini justru bertolak belakang dengan pasangan pengantin yang satunya.
Buukk..
“Yaakk kenapa menendangku!” ringis Myungsoo kesakitan.
“Bila kau berani menciumku maka kau harus siap mati ditanganku!” ancam Suzy.
“Hey kau terlalu percaya diri! Cihh, siapa yang sudi menciummu hah?” balas Myungsoo.
“Yaakk jangan membuat kami malu dihadapan tamu-tamu penting seperti ini!” bisik Tn. Bae dan Tn. Kim kepada anak mereka namun tetap tersenyum kehadapan para undangan seolah tak terjadi apa-apa.

Acara pernikahan akhirnya selesai, kini 2 buah mobil mewah telah terparkir indah siap mengantar 2 pasang pengantin tersebut ke tujuan yang sama.
“Jiyeon-ah, eomma percayakan Suzy padamu. Kau tahu dia sangat manja jadi buatlah dia menjadi mandiri seperti mu” pesan Ny. Bae sebelum kedua anaknya pergi meninggalkannya.
“Minho-ah, kau adalah hyung yang paling baik bagi Myungsoo dan kau sudah cukup dewasa, tuntunlah Myungsoo dan Suzy dengan cara yang baik . Kalian berempat harus menjadi keluarga yang baik ne?” pesan Ny. Kim selanjutnya.
“Jiyeon-ah, Minho-ah, aku serahkan mereka pada kalian. Tugas kalian hanya membuat mereka saling mencintai bagaimanapun caranya. Buat mereka saling membutuhkan satu sama lain. Jangan biarkan mereka seperti tikus dan kucing lagi, arra?” pinta Tn. Bae kepada Jiyeon dan Minho. Sedangkan yang dibicarakan sudah masuk ke kedalam mobil sejak tadi dengan wajah kusut masing-masing.

–Suzy POV–
“Unnieeeee…” teriakku.
“Yaakk Suzy-ah kau pikir ini hutan? Berteriak seenaknya!” protes Jiyeon unnie yang datang menghampiriku bersama Minho oppa.
“Apa rumah semewah ini hanya memiliki 2 kamar?”
“Maumu berapa? Kurasa sudah pas, hanya ada 2 pasangan kan?”
“Andwae! Aku tak mau seranjang dengannya!”
“Cih, kau pikir aku mau?”
“Yaakk, bila terus seperti ini kalian akan mengganggu malam pertama kami!” protes Minho oppa.
“Yeobo, jangan hiraukan mereka kajja kita kembali ke kamar” ucap Jiyeon unnie seraya meninggalkan kami berdua di kamar.
Buukkk..
Aku melemparkan satu bantal ke lantai.
“Kau tidur di lantai! Atau di sofa juga aku tak perduli!”
“Yakk enak saja! Ini juga kamarku, kenapa hanya kau yang mengatur?”
“Lalu maksudmu kita akan tidur seranjang?”
“Kurasa begitu, sekesal-kesalnya aku padamu aku tak sampai hati membuang bantal seenaknya ke lantai lalu menyuruhmu untuk tidur dilantai”
“Kim Myungsoo.. kau sedang menyindirku eoh?”
“Kau merasa?”
“Tidak!”
“Bila tidak berarti aku tak menyindirmu tapi bila kau merasa berarti ya aku menyindirmu”
“Hah lupakan! Aku lelah dan ingin tidur” kurebahkan tubuhku diatas ranjang empuk ini.
“Aku juga” kulihat ia juga melakukan hal yang sama sepertiku.
“Bae Suzy..” panggilnya.
“Emmm..”
“Kira-kira mereka sedang apa?”
“Mana kutahu!”
“Kau tidak penasaran?”
“Tidak sama sekali!”
“Aku penasaran”
“Mengintip saja!”
Takk.. Ia menjitak kepalaku.
“Ide yang sangat buruk! Itu tidak sopan pabbo!” tukasnya.
“Yaakk appo!” protesku.
“Emmm Bae Suzy..” panggilnya lagi.
“Ne! Kau terus memanggilku! Menggangguku saja!”
“Kamar sebesar ini kenapa tak ada bantal guling? Bila yang menyiapkan rumah ini adalah orangtuaku harusnya mereka tahu aku tak bisa tidur tanpa bantal guling” ia mendengus kesal.
“Mwo? Hahaha.. kau tahu? Dari luar kau terlihat angkuh, sombong, menyebalkan dan sebangsanya, tapi didalamnya? Aigoo.. tidak bisa tidur hanya karena sebuah bantal guling? Jeongmal? Hahaha..” aku tertawa puas.
“Bae Suzy.. untuk kali ini saja aku akan lupakan ledekanmu itu dan tak akan marah ataupun mencari perkara padamu. Besok aku akan membelinya, malam ini bisakah kau meminjamkan tubuhmu sebagai bantal gulingku?” mohonnya.
“Mwo? Noooo! Itu sungguh menjijikkan! Kau tak bisa memelukku!”
“Bae Suzy jeball”
“Sorry but still nooo!!”
“Hah baiklah aku masih punya hyungku!” ia hendak beranjak pergi.
“Yaakk kali ini kau yang tidak sopan! Jangan mengganggu kesenangan orang!”
“Tak ada jalan lain”
“Aishhh terpaksa aku mengizinkanmu! Ini karena unnie kesayanganku!”
“Jinjja? Hahh.. akhirnya aku bisa tertidur!” ia merengkuhku kedalam pelukannya seakan-akan aku memang sebuah bantal guling!
“Jangan kencang-kencang! Kau mencoba mencuri kesempatan eoh?” kulonggarkan pelukannya.

–Jiyeon POV–
“Oppa kau dapat mendengarnya?”
“Ne..”
“Hihihi Mission One complete! Idemu sungguh-sungguh luar biasa oppa!”
“Hahaha, aku akan merasa tidak pantas menjadi hyungnya bila aku tidak tahu apa kelemahan Myungsoo”
“Ne! Kau suamiku yang paling daebak!”
“Urusan mereka sudah selesai! Yeobo kali ini mari selesaikan urusan kita! Haapp..” Minho oppa menggendongku menuju kamar kami.

===
“Saengi, Myungsoo oppa, Eomma dan appa mewajibkan kita untuk berbulan madu, hanya saja dengan waktu yang berbeda karena rumah ini tak boleh kosong. Jadi kami dulu atau kalian dulu?” tanyaku pada Suzy dan Myungsoo di tengah sarapan kami.
“Terserah” jawab mereka serempak tak semangat.
“Baiklah karena jawabannya terserah maka biar aku dan Minho oppa saja duluan, bagaimana oppa?” tanyaku pada Minho oppa meminta persetujuan.
“Aku setuju! Kita berangkat nanti siang yeobo” jawabnya mantap.
“Buru-buru sekali! Dasar tak sabaran!” sahut Myungsoo oppa.
“Tentu saja tak sabaran! Bulan madu adalah hal yang paling dinantikan dari sepasang suami istri” bela Minho oppa.

–Suzy POV–
“Unnie.. oppa.. berhati-hati dan besenang-senanglah” aku melambaikan kedua tanganku menyaksikan mobil mereka yang perlahan lenyap menjauhi rumah kami.
“Aku lapar!” kata Myungsoo disaat kami telah masuk kedalam.
“Lalu?”
“Buatkan aku makanan!”
“Shireo! Lagi pula aku tak bisa masak!”
“Yaakk kau ini yeoja atau bukan? Memasak adalah kemampuan wajib yang harus dimiliki seorang yeoja. Kau sungguh memalukan!”
“Yaakk jangan salahkan aku, salahkan eommaku yang tak pernah mengizinkanku masuk ke dapur!”
“Unnie mu bisa, bilang saja kau malas”
“Terserah! Berurusan dengan namja sepertimu membuatku lelah!” aku berlalu meninggalkannya.
“Yaakk aku lapar!” teriaknya.
“Bukan urusanku!” balasku berlenggang pergi.
“Kau istriku pabbo!”

Time : 06.00 PM KST
Namja itu sama sekali tak kelihatan dari tadi. Kuputuskan untuk keluar kamar. Aku ingin menonton TV. Aisshh ada apa dengannya? Namja itu tampak memegang perutnya seperti tengah menahan sakit.
“Kim Myungsoo, kau baik-baik saja?” aku menghampirinya.
“Maagku kambuh”
“Jadi dari tadi kau belum makan?” ia menggeleng lemah.
“Kenapa tidak makan?”
“Kau bilang tidak bisa masak! Bila aku bisa aku tak akan menyuruhmu!”
“Kau bisa membelinya diluar kan?”
“Aku alergi makanan luar, aku hanya bisa makan makanan home made”
“Cih bohong sekali! Lalu ketika di Jerman apa kau tak makan?”
“Otakmu terlalu sempit! Appaku memiliki cukup uang untuk mempekerjakan seorang chef bagiku. Kau tahu? Menjawab pertanyaanmu membuat rasa sakit ini semakin bertambah!”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Buatlah sesuatu yang kau bisa, apa saja akan ku makan!”
“Hah..hidupmu sungguh menyusahkan! Aku akan menelepon Jiyeon unnie dulu, tahan sedikit lagi sakitmu” aku berlalu meninggalkannya menuju dapur. Sepertinya aku harus bekerja keras sore ini.

“Kim Myungsoo.. makanlah sup gingseng ini!” aku menghampirinya dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk nasi, segelas susu, dan sup gingseng buatanku.
“Ini kau bisa masak” ia membangunkan tubuhnya setelah aku duduk disebelahnya.
“Yaakk,, aku terpaksa mengganggu mereka demi membuatkanmu masakan ini, ige!” aku menyodorkan nampan yang kubawa kepadanya.
“Kau tega sekali, badanku lemas suapi aku jeball”
“Aishh, baiklah karena aku kasian padamu, aaaakkk..” aku mulai menyuapinya.
“Gomawo! Kau sungguh terlihat manis bila baik seperti ini”
“Kau baru menyadarinya? Sangat malang!”

–Minho POV–
“Oppa, high five!” ia mengangkat tangan kanannya mengajakku ber-high five.
Clap..
Aku membalas high fivenya.
“Mission 2 complete!” tambahnya lagi seraya menyaksikan video yang didapat dari kamera CCTV yang telah dipasang sedemikian rupa agar aku dan Jiyeon bisa mengamati kegiatan mereka.
Ne, kami tidak berbulan madu. Kami berbohong pada mereka. Sewaktu mobil kami berlalu pergi kami hanya mengelilingi rumah kami dan akhirnya masuk lewat pintu belakang. Mereka hanya tahu bagian depan rumah kami, tidak untuk bagian belakangnya. Bila dilihat sekilas rumah mewah kami terlihat seperti 2 buah rumah yang terletak saling bertolak belakang, padahal didalamnya ada satu pintu penghubung antara bagian depan dan bagian belakang. Bukankah ini sangat pas untuk 2 pasangan pengantin seperti kami?
“Lalu kapan kita honey moon sungguhan yeobo?” rajukku pada Jiyeon.
“Sampai mereka benar-benar saling mencintai karena kita akan honey moon berempat!”
“Aku tidak yakin, sepertinya akan lama”
“Percaya padaku, sebulan bahkan seminggu lagi itu bisa terjadi. Ada cinta di mata mereka” jawabnya yakin.
“Apa istriku ini pakar cinta, eoh?” aku mengacak-acak lembut rambutnya.

Time : 08.00 PM KST
–Myungsoo POV–
Handphoneku berdering yang menandakan ada sebuah panggilan masuk. Appa yang meneleponku.
“Yeobohaseyo” jawabku di telepon.
“…”
“Mianhae appa, aku tidak bisa”
“…”
“Yaakk appa, perutku sedang bermasalah..”
“…”
“Apa sangat penting?”
“…”
“Ne! Ne! Ne! Aku ke perusahaan sekarang!”
Tuuutt.. Aku memutuskan panggilannya dan dengan langkah terpaksa aku pergi ke perusahaan appaku. Suzy akan kuberi tahu lewat sms saja karena ini masalah penting kata appaku ditelepon tadi.

2 jam kemudian aku sudah kembali kerumah, sungguh lebih baik aku tak usah menemuinya tadi. Hal yang ia katakan penting tapi sama sekali tak penting bagiku. Kini kuparkirkan mobilku di garasi dan akupun masuk kedalam.
“Omoo..” hanya kata itu yang keluar dari mulutku saat melihat keadaan rumahku yang gelap gulita. Apa Suzy lupa menghidupkan lampu? Atau memang mati listrik? Tiba-tiba aku teringat pada yeoja itu, dia dimana? Kuputuskan untuk mencarinya ke kamar dengan hanya bantuan penyinaran dari handphoneku.
Cit..
Kubuka pintu kamar kami dan apa yang kulihat? Samar-samar dapat kulihat yeoja itu tengah meringkuk di atas kasur seperti orang ketakutan dan badannya gemetaran.
“Bae Suzy kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?” aku mendekat kearahnya dan mengarahkan cahaya pada handphoneku ke tubuhnya.
“Kim Myungsoo, apa kau Kim Myungsoo?” ucapnya bergetar.
“Ne! Ini aku, ada apa denganmu?” aku duduk di tepi ranjang tepat disamping tubuhnya.
Haapp..
Ia bangkit dengan segera lalu memelukku erat.
“Aku takut..Kim Myungsoo aku takut.. kumohon jangan tinggalkan aku.. aku takut ruangan gelap..kenapa membiarkanku sendiri bila ruangan ini gelap? hiks.. hiks..” ucapnya terisak.
“Mianhae, aku tak akan meninggalkanmu, berhenti menangis Bae Suzy, aku disampingmu selalu” ucapku menenangkan seraya mengusap-usap kepala dan punggungnya.
“Kita cari lilin dulu ne?”
“Tidak mau, kumohon jangan pergi aku takut Kim Myungsoo” ia mempererat pelukannya.
“Baiklah, kita disini saja. Jangan takut, ada aku..” ucapku menenangkan lagi.
“Sudah jam 10, ayo kita tidur” tambahku lagi seraya merebahkan tubuhnya di kasur.
“Aku takut” ia mencengkram jemariku erat.
“Aku disampingmu, tenanglah..” aku ikut berbaring disampingnya.Mengangkat sedikit kepalanya lalu membiarkan lengan kiriku menjadi bantalnya untuk tidur malam ini. Ia memeluk perutku erat dan meringkuk disamping tubuhku sebelah kiri seakan tak berani menatap apapun yang ada disekitarnya. Mengusap lembut kepala dan punggungnya, hanya itu yang bisa kuperbuat untuk membuatnya sedikit tenang hingga dapat kurasakan ia kini sudah tertidur dipelukanku. Sifat menyebalkannya seolah hilang seketika dan berubah menjadi sesosok yeoja malang bila ia seperti ini.

–Suzy POV–
Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk ke setiap kaca-kaca kamarku. Pantulan sinar matahari pagi yang sehat namun membuat mataku silau memaksaku untuk membuka mata ini dengan sempurna. Aku menatap wajahnya yang masih terlelap. Lengan kirinya masih menempel indah dibawah kepalaku. Tanganku juga masih melingkar indah di perutnya.
“Bila tertidur seperti ini ternyata sisi ketampananmu sedikit terlihat, kenapa kau tak tidur seperti ini saja terus? kurasa akan lebih baik” aku bergumam kecil seraya melihat setiap detail wajahnya yang sangat dekat denganku sekarang.
“Aku mendengarnya!” suara itu keluar tiba-tiba yang refleks membuatku melepaskan tanganku dari perutnya dan bergeser menjauhinya. Namun lengannya yang masih berada dibawah kepalaku menahan tubuhku hingga aku tak bisa bergeser.
“Memang kenapa kalau kau memelukku seperti ini?” ucapnya sambil meraih tanganku lalu melingkarkannya lagi diperutnya sendiri seperti semula.
“Hidupmu terlalu beruntung bila dipeluk oleh yeoja cantik sepertiku Kim Myungsoo! Emmm.. terimakasih telah membuatku sedikit merasa nyaman kemarin, jeongmal gomawoyo!”
“Hanya sedikit?”
“Emmm.. baiklah BANYAK!! Kau senang eoh?”
“Tentu!”
“Kim Myungsoo, terkadang aku sering heran padamu, suatu ketika kau bisa sangat baik dan manis, tapi suatu ketika juga kau bisa sangat-sangat menjengkelkan!”
“Itu karena kau belum mengetahui diriku lebih dalam Bae Suzy!Emmm Bae Suzy..” panggilnya kemudian.
“Emmm..” jawabku ditengah posisiku yang masih sama seperti tadi tanpa perubahan sedikitpun, memeluknya. Bukan karena aku ingin tapi karena tangan kanannya yang menahan tanganku dan lengan kirinya yang menahan badanku.
“Boleh aku tahu kenapa kau bisa seperti kemarin? Ada sesuatu yang pernah terjadi padamu?”
“Hah..kau membuatku harus mengingatnya lagi! Sebenarnya dulu waktu aku kecil mungkin waktu umurku 6 tahun, aku pernah terjebak di gudang kecil yang sangat gelap, pengap, dan menjijikkan. Aku sendiri tak tahu mengapa aku bisa terkunci di sana, eomma, appa, dan unnie tak kunjung datang bahkan disaat aku meneriaki nama mereka sekencang yang aku mampu hingga akhirnya aku tak sadar lagi apa yang terjadi selanjutnya padaku. Sejak itulah aku phobia terhadap ruangan yang gelap terlebih ruangan itu tertutup” ceritaku panjang.
“Aigoo, aku tak menyangka yeoja menyebalkan sepertimu bisa mengalami kejadian seperti itu..” ledeknya.
“Yaakk kau menyebalkan! Bukannya bersimpati malah meledekku!”
“Aku hanya bercanda pabbo! Lalu apa kau tidak berusaha menghilangkan rasa takutmu itu? Betapa malangnya aegymu nanti bila memiliki eomma yang memiliki phobia sepertimu..”
“Aegy? Yaakk apa kau berniat memiliki anak bersamaku eoh? Bila aku memiliki anak bukankah itu berarti dia anakmu juga karena kau adalah suamiku eoh?”
“Aigoo.. Kau sungguh luar biasa! Bahkan kau bisa membaca pikiranku?”
“Yaakk jangan harap kau bisa mendapatkannya Kim Myungsoo!!” aku mencubit keras pinggangnya dengan tangan kiriku yang sebelumnya melingkar indah di perutnya.
Kreok.. kreok.. kreok..
“Omooo, suara apa itu?” aku menghentikan cubitanku padanya.
“Hihihi itu suara perutku, aku laparrrr..”
“Lalu?”
“Buatkan aku makanan, jeball..”
“Aku tidak bisa masak!!!”
“Sup gingseng seperti kemarin pun aku akan memakannya Bae Suzy..” mohonnya.
“Aku sudah lupa resepnya!”
“Kau bisa tanya lagi pada Jiyeon kan?”
“Kauuu! Selalu membuatku repot! Unnieeeee, kapan kau pulang? Cepatlah kalian pulang!” aku mengacak-acak rambutku frustasi.

===
–Myungsoo POV–
“Appa, haruskah kami bulan madu ke Pulau Jeju?” protesku lewat telepon kepada appaku.
“…”
“Di sana dengan disini tak akan ada bedanya!”
“…”
“Aishh,ne! ne! ne!”
Tuutt..
Sambungan telepon kuputus.
“Sudah kubilang ini perintah appa Myungsoo-ah. Kau tak pernah percaya padaku. Bersiaplah segera dan cepatlah berangkat” perintah Minho.
“Kau mengusirku?”
“Tidak!”

“Oppa jaga dongsaeng kesayanganku!” pesan Jiyeon padaku sebelum aku melajukan mobilku.
“Aku tidak janji” jawabku seadanya.
“Harus janji!”
“Bila aku tidak mau?”
“Siap-siap mati ditanganku!”
“Aishh, kau sama menyeramkannya seperti adikmu”
“Aku mendengarnya!” ucap Suzy kemudian.
“Suzy-ah, layani suamimu dengan baik ne? Satu hal yang perlu kau tahu, dia keras bila kau keras tapi dia akan sangat lembut bila kau juga lembut” nasihat Minho pada Suzy. Kulihat Suzy hanya mengernyitkan dahinya.
“Aku tak perduli!” jawabnya kemudian. Dan.. kamipun pergi meninggalkan mereka.

“Aishh, haruskah kita satu kamar lagi?” protesnya disaat kami telah memasuki kamar hotel yang telah dipesankan untuk kami.
“Appa sudah mengaturnya, terima saja itu tidak sulit! Aku bosan mendengar celotehmu”
“Dan aku bosan harus melihat wajahmu setiap kali aku membuka mataku!”
“Tak ada yang menyuruhmu untuk melihat wajahku kan?”
“Kau tidur tepat disampingku, mau tidak mau wajahmu tampak di penglihatanku!”
“Alasan yang cukup baik, bilang saja kau memang ingin melihat wajah tampanku kan?”
“Cih,, terlalu percaya diri!”
“Bersiaplah bila ingin ikut jalan-jalan bersamaku, disini sungguh membosankan!”
“Kemana?”
“Kemana saja..”

–Suzy POV–
“Yaakk jalanmu cepat sekali! Tunggu aku!” protesku pada namja di depanku ini.
“Jalanmu seperti siput!” jawabnya yang semakin mempercepat langkahnya di depanku.
Buukk..
“Aishh appoooo!” ringisku kesakitan karena high heels yang ku kenakan patah dan membuatku terjatuh. Aku melihatnya! Ia berhenti dan menoleh kearahku saat mendengar aku berteriak. Dengan kilat ia berlari menghampiriku.
“Kau baik-baik saja? Kenapa bisa terjatuh?”
“High heelsku patah, hiks.. hiks.. hiks..jeongmal appoyo!”
“Hah.. ini yang tak pernah kumengerti dari seorang yeoja. Mengapa mereka mengenakan high heels bila sudah jelas itu menyakiti kaki mereka!”
“Aishh, kau tidah tahu? High heels akan membuat kepercayaan seorang yeoja menjadi meningkat, terlihat lebih cantik, dan kaki mereka akan tampak lebih jenjang. Kau namja jadi tidak mengerti apa pentingnya sepasang high heels bagi kami!”
“Kau akan tetap cantik walau tanpa high heels itu Bae Suzy” gumamnya kecil.
“Apa? Bisa ulangi sekali lagi? Aku kurang mendengarnya.. ”
“Tidak ada pengulangan untuk sesuatu yang sudah lewat! Kajja naik ke punggungku, berjalanpun aku yakin kau tak akan bisa” ia menjongkokkan tubuhnya agar aku bisa naik ke punggungnya.
“Apa tidak apa-apa?” tanyaku memastikan.
“Bila apa-apa aku tak mungkin menawarkan diri pabbo! Cepat naik!” aku mengikuti perintahnya. Tapi belum selesai aku naik ke punggungnya ada suara yang terdengar jelas sedang memanggil namaku.
“Suzy-ah.. Bae Suzy! Itu benar kau kan?” kurasa suara itu berasal dari arah belakang kami. Mendengarnya aku dan Myungsoo menoleh ke arah belakangan.
“Oppa? K.. kau sungguh-sungguh Junho oppa?” tanyaku tak percaya melihat namja tampan yang sedang berdiri di depanku.
“Eemmmm” ia mengangguk pasti dan berlari memelukku.
“Chagi, jeongmal bogoshipeo!” ia mempererat pelukannya.
“Kenapa bisa ada disini oppa?”
“Aku ada sedikit pekerjaan disini chagi”
“Jangan terlalu bekerja keras oppa, aku tau kau sangat mudah sakit” nasihatku padanya.
“Kau masih tetap sama chagi” ia mengacak-acak lembut kepalaku.
“Chagi? Apa kalian?..” tanya Myungsoo tiba-tiba. Aku hampir melupakan keberadaannya sejak tadi. Junho oppa tampak mengernyitkan sedikit dahinya dan menatapku sejenak.
“Dia namja yang sering kuceritan lewat e-mail oppa” kataku kemudian.
“Aaa jadi kau? Emm Lee Junho imnida, aku namjachingunya ya meski itu dulu tapi setidaknya tak pernah ada kata putus di antara kami hingga saat ini walau komunikasi kami sempat terputus karena LDR” jelasnya panjang.
“Chagi, ayo ikut aku jalan-jalan biar aku yang menggendongmu dan mengobati kakimu” Junho Oppa menarik tanganku.
“Tidak bisa! Dia akan kembali ke hotel bersamaku!” Myungsoo menarik tanganku kuat agar terlepas dari Junho oppa.
“Tidak bisa! Aku namjachingunya!”
“Kau namjachingunya? Aku suaminya! Jadi siapa yang lebih berhak?”
“Tetap aku!”
“Otakmu sempit! Dasar pabbo!” kurasakan kini Myungsoo menggendongku meninggalkan Junho oppa. Kakiku yang sangat sakit membuatku tak bisa berbuat apa-apa padahal aku ingin pergi bersama Junho oppa.

“Yaakk! Kenapa kau membawaku pergi? Kau tau? Aku baru saja bertemu dengannya setelah sekian lama!” bentakku disaat kami telah kembali ke kamar hotel.
“Memang aku peduli? Entah sudah lama ataupun baru aku tak akan mengijikanmu bertemu dengannya!”
“Siapa kau berani mengaturku hah?” teriakku padanya.
“Aku suamimu pabbo!” teriaknya tak kalah keras.
“Suami? Bahkan kita sama sekali tak mengharapkan pernikahan ini kan? Lalu apa penting status tersebut bagi kita hah?” teriakku juga.
“Kau mencintainya hingga berteriak seperti ini padaku eoh? Kau sungguh-sungguh ingin menemuinya?” tanyanya datar.
“Tentu saja!” jawabku tegas.
“Pergilah! Mianhae sempat mencegahmu menemui orang yang kau cintai tapi sebaiknya obati dulu kakimu”
“Gomawo! Itu tidak perlu, aku masih bisa jalan! Aku pergi!” aku pergi meninggalkannya.

“Dasar namja pabbo! Kim Myungsoo, kenapa tidak menghentikan langkahku? Kenapa kau tidak menarik tanganku lalu berkata “Bae Suzy jangan pergi!” Aahh mau kemana aku malam-malam begini? Junho oppa tak akan ada disini setelah aku digiring pergi oleh namja menyebalkan itu! Tapi aku gengsi untuk kembali ke hotel! Hua.. lalu aku harus sendiri disini? Malang sekali! Kim Myungsoo jemput aku! Aigoo..kenapa namja itu? Tidak jadi! Junho oppa jemput aku! Hiks..Hiks..” aku hanya dapat meratapi nasib malangku.

–Myungsoo POV–
Aku hanya bisa meratapi nasib malangku. Entah kenapa hatiku sangat sakit mendengar bahwa ia mencintai namja itu. Aku sangat gengsi, tapi aku tak bisa menutupinya. Ya, kurasa aku mencintainya sekarang. Tapi,, disaat cinta ini mulai tumbuh yeoja itu malah mencintai orang lain, hah aku sedih. Pasti dia sedang bermesraan dengan namjanya sekarang. Sudah jam 11, betah sekali mereka! Apa yang mereka lakukan?
Cit..
Dapat kudengar pintu kamar terbuka, kurasa itu dia. Aishh kasian sekali, dapat kulihat ia melangkah dengan kaki terseok-seok.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku khawatir.
“Sedikit sakit!” jawabnya singkat.
“Sudah kubilang obati dulu kakimu baru pergi. Kau terlalu bernafsu bertemu dengannya!” aku menggendongnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“Enak saja! Aku sama sekali tidak bernafsu!”
“Hanya menggebu-gebu?”
“Tidak juga! Kenapa belum tidur?”
“Menunggu istriku”
“Jangan sok baik!”
“Aku memang baik!”
“Kenapa kau jadi baik padaku?”
“Karena.. karena..”
“Karena apa? Cepat katakan!”
“Tidak jadi karena tidak penting!”
“Tidak mau! Cepat katakan, aku penasaran! Kau pasti ingin mengucapkan sesuatu!”
“Sudah kubilang tidak penting! Aku akan mengobati kakimu sekarang, jadi bila sedikit sakit tahanlah!” perintahku padanya, sedang ia hanya mengerucutkan sedikit bibirnya kedepan.

===
–Suzy POV–
Aku mengerjapkan kedua mataku, menggeliatkan tubuhku sekedar untuk merenggangkan otot di pagi hari yang cerah itu. Namja itu? Sudah bangun? Tapi kemana? Kuputuskan untuk mencarinya disekitar hotel. Langkahku akhirnya terhenti di depan lobby hotel. Aku menemukan sosoknya. Namja ini! Dia membuatku murka oleh tingkahnya!
“Oppa.. Kau Myungsoo oppa kan?” panggil yeoja tersebut.
“Omooo, Krystal..ini benar kau?” Myungsoo tampak kaget.
“Ne! Jeongmal bogoshipeo!” yeoja itu berhambur ke pelukan Myungsoo yang segera di balas oleh namja tersebut.
“Kenapa bisa disini? Kapan kembali dari Jerman?” Myungsoo melepaskan pelukannya.
“Aku liburan disini oppa hanya sekedar ingin merefresh otakku, aku kembali ke Korea 2 hari yang lalu” jawabnya.
Setidaknya percakapan itu yang tertangkap oleh telingaku. Dasar yeoja murahan! Bisa-bisanya dia memeluk suami orang! Aahhh aku ingin menjambak rambut panjangnya, menampar pipinya, menendangnya! Baiklah sepertinya aku harus menghilangkan urat maluku sekarang. Aku berjalan menuju mereka, namun langkahku akhirnya tertahan oleh genggaman seseorang.
“Suzy-ah tunggu!” Junho oppa menggenggam tanganku.
“Oppa? Wae?” tanyaku.
“Ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan” pintanya.
“Tapi aku..”
“Jeball”
“Baiklah..” ia menggandeng tanganku.

“Apa yang ingin kau bicarakan oppa?” tanyaku padanya saat kami sudah duduk di kursi panjang taman hotel ini.
“Apa kau masih mencintaiku? Bagaimana kelanjutan hubungan kita? Bisakah kita melanjutkan hubungan yang sempat tertunda ini?” jemarinya menggenggam erat tanganku.
“Oppa aku selalu menyayangimu, tapi rasa sayang ini berbeda dengan yang dulu. Aku menyayangimu hanya sebagai oppaku saja sekarang. Kau tahu keadaanku sekarang kan? Aku istrinya. Kau mengertiku kan?”
“Tapi kalian menikah karena terpaksa kan? Kau bilang kau membencinya”
“Aniyo, kurasa itu dulu. Sekarang sepertinya aku harus mengakui jika aku.. aku.. hah lupakan saja oppa!”
“Kau mencintainya! Mengatakan itu saja kau susah Suzy-ah!”
“Huh, kau berhasil menebaknya! Oppa.. kau bisa menjaga rahasia kan? Harga diriku bisa jatuh bila orang lain mengetahuinya dan oppa.. kau tidak marah padaku kan? Kau akan menjadi Oppaku kan?”
“Tentu saja! Jangan khawatir chagi” ia mengusap lembut kepalaku.
“Keundae..Oppa.. sepertinya cintaku hanya cinta yang sepihak, ia tidak mencintaiku! Aisshhh lupakan! Hal itu tak penting untuk di bahas! Oppa.. pelukan pertemanan..” aku melentangkan kedua tanganku memintanya memelukku. Dan kamipun berpelukan erat pada akhirnya.
“Bae Suzyyyyy!!!” terdengar teriakan seorang namja yang bisa ku kenal suaranya.
“Ayo kembali ke kamar!!” ia menarik paksa lenganku hingga mungkin lenganku merah dibuatnya.
Buukkk..
Ia menutup kasar pintu kamar kami dan melepaskan genggaman tangannya pada lenganku.
“Yaakkk! Kau menyakitiku! Sikapmu sungguh memalukan!”
“Aku.. aku.. tak akan kuperdulikan gengsiku, maluku, ataupun sebangsanya saat ini. Terserah apa yang kau pikirkan. Aku.. aku.. mencintaimu mencintaimu mencintaimu mencintaimu!! Jangan pernah berpelukan dengannya atau siapapun! Mau tidak mau kau harus mau!” ucapnya dengan nafas memburu.
Aku terbelalak mendengarnya. Kaget, senang, speechless. Benarkah yang ku dengar?
“Mencintaiku? Mustahil! Haruskah aku percaya eoh?”
“Kau harus percaya!” ia mencengkram erat kedua bahuku.
“Aku.. aku.. aku juga mencintaimu mencintaimu mencintaimu!! Dan yeoja itu! Aku ingin menjambaknya, menamparnya, menendangnya. Seenaknya memeluk suami orang bahkan istrinya sendiri tak pernah memeluknya!”
“Yeoja? Aigoo.. Krystal! Dia hanya temanku di Jerman, kami hanya pelukan untuk saling melepas rindu! Kau mencintaiku? Sulit dipercaya setelah kemarin kau mengatakan bahwa kau mencintai namja itu dan sangat bernafsu untuk pergi dengannya”
“Aku mengatakannya karena aku kesal padamu yang dengan seenaknya memaksaku pergi disaat aku belum melepas rindu padanya pabbo! Rindu sebagai seorang teman, rasa cintaku sudah kandas ditengah jalan sejak lama padanya!”
“Tapi dia memanggilmu chagi! Sok imut! Sok mesra!”
“Aku tak perduli! Itu mulutnya, jadi itu urusannya! Hah hari ini aku merasa sedikit gila! Aku ingin mencuci mulutku bila mengingat kata-kata yang baru kuucapkan padamu!”
“Bila kau sungguh-sungguh mencintaiku kau tak akan mencuci mulutmu setelah mengatakan perasaanmu padaku tadi!” ucapnya datar.
“Oppa..Kalau begitu aku tidak akan mencuci mulutku karena aku sungguh-sungguh” aku berhambur kepelukannya.
“Oppa?”
“Tidak boleh ya?”
“Aniyo, ini terdengar jauh lebih manis. Tidak seperti sebelum-sebelumnya Kau selalu memanggilku ‘Myungsoo Kim Myungsoo Myungsoo Kim Myungsoo’ sejujurnya kupingku sedikit terasa panas!”
Aku mendongakkan kepalaku menatapnya.
“Oppa oppa oppa oppa!” ucapku tersenyum yang segera ia balas.
“Yeobo yeobo yeobo yeobo!” balasnya.
“Yeobo?”
“Ne! Kau kan istriku” ia tersenyum lagi.
“Aku mencintaimu! Jeongmal saranghaaeyo! Jangan tanyakan sejak kapan karena aku tak tau sejak kapan. Cinta ini tumbuh secara alami untukmu” tambahnya lagi.
“Aku juga mencintaimu! Nado saranghaeyo! Jangan tanyakan sejak kapan karena aku juga tak tau sejak kapan. Yang pasti aku mencintaimu sekarang, besok, lusa, dan akan selalu mencintaimu seterusnya” balasku.
Ia tersenyum mendengarnya, kami saling bertatapan lekat kini. Kurasakan ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku, mendorong pinggangku kedepan hingga tubuh kami saling berhimpit tak berjarak. Ia memiringkan wajahnya mendekati wajahku.
Cuupp..
10 detik ia mencium lembut bibirku kemudian melepaskannya menatapku dengan sebuah senyuman manis.
Cuupp..
20 detik ia mengulangi hal sama pada bibirku.
Cuupp..
30 detik ia tidak menciumkku melainkan melumat lembut bibirku. Kulingkarkan tanganku pada lehernya lalu membalas lumatan bibirnya.
“Apa kita akan melakukannya saat ini?” katanya sesaat setelah tautan bibir kami terlepas.
“Aku.. aku.. gugup”
“Apa kau percaya padaku?”
“Emmm..” aku mengangguk pasrah. Kini ia merebahkan tubuhku di ranjang dan..

–Minho POV–
Omo.. omo.. omo..
Klik!
“Yakk oppa! Kenapa kau mematikannya!” protes Jiyeon padaku setelah aku mematikan layar monitor yang memperlihatkan video CCTV yang terpasang disebelah kamar hotel yang kami sewa. Ya, kamar Suzy dan Myungsoo Hyung tepatnya.
“Yaakk yeobo itu adalah privasi mereka. Adegan selanjutnya hanya mereka yang boleh mengetahuinya. Kita tidak boleh mengetahuinya!” jelasku padanya sedang ia hanya mendengus kecil.
“Arraseo! Hah oppa akhirnya Mission 3 complete! Aku tak menyangka akan secepat ini, bahkan ini kurang dari seminggu”
“Ne! Mereka sebenarnya saling mencintai, hanya saja gengsi mereka yang sama-sama besar mungkin”
“Dan kurasa ini berawal dari high heels yang dengan sengaja kupatahkan,hihihi” Jiyeon tertawa puas.
“Satu lagi! Kurasa disini Junho dan Krystal adalah malaikat kita. Tanpa mereka kurasa Suzy dan Myungsoo tak akan menyadari ataupun mengakui perasaan mereka satu sama lain,, hahaha” aku ikut tertawa puas.
“Tunggu! Oppa, tidakkah kau merasa kita seperti pengamat kisah cinta mereka?”
“Ne! Aku juga merasa begitu!”

–Myungsoo/Suzy POV–
Banyak cinta yang tumbuh karena berawal dari sebuah kebencian. Terlalu banyak kisah yang berawal dari sebuah kebencian yang benar-benar benci namun berakhir dengan sebuah cinta yang benar-benar indah dan abadi. Abadi? Mungkin kami belum pantas mengatakannya, perjalan kisah ini masih begitu panjang kedepannya tapi menyampaikan sebuah harapan bukanlah hal yang salah kan? Harapan yang kami yakin bisa mencapainya, keabadian cinta! Kurasa kami adalah satu diantara sekian banyak pasangan yang mengalami kisah ini. Tapi kami tak pernah menyesal telah mengalaminya, karena bila tak pernah mengalaminya bukankah cerita ini juga tak akan ada?

_TBC_

Iklan

13 thoughts on “Our Bad or Good Marriage Life?? [Twoshoot-Part 1]

  1. Ping balik: Our Bad or Good Marriage Life?? [Twoshoot-Part 2] | SuzyBae's World Fanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s