My Ice Prince Myungsoo [Part 4]

Untitled-2

 

 

  • Title : My Ice Prince Myungsoo Part 4
  • Script Writer : Kim Soo Kyung
  • Main Cast : #Bae Suzy #Kim Myungsoo
  • Support Cast : Find by your self
  • Genre : Marriedlife, Romance, Etc.
  • Length : Short Story/ Short Chapter
  • Disclaimer : Pertama kalinya buat  FF yang bagian akhirnya ada kata “TBC” , biasanya cuma main diseputaran oneshoot 😀 semoga FF ini bisa diterima, maaf kalau kurang memuaskan : )

 

Previous Part : [Part 1] , [Part 2] , [Part 3]

 

==Part 4==

 

“Dia..”

“Lee Junho?!!”

“Apa kau ingin mencoba mengejarnya lagi?!!!” sorot mata tajam kembali terpancar dimatanya, Myungsoo mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tubuhnya sama sekali tak melakukan pergerakan, ia lebih memilih tetap diam didalam mobil dengan hati yang berapi-api menyaksikan bagaimana Junho dengan lembutnya mengusap-usapkan tangannya di kepala Suzy dan bagaimana dengan mesranya tangan itu kemudian merangkul bahu Suzy. Dengan blingsatan Myungsoo meraih handphone yang ada di saku celananya kemudian dengan gerakan cepat ia menggeser tombol lock screen pada layar ponselnya. Tangannya sibuk mencari-cari sebuah nama pada kontaknya hingga akhirnya ia menemukan kontak nama yang ingin ia telepon detik ini juga.

Kim Suzy — Call

“Dimana?” Myungsoo mengambil alih pembicaraan ketika ia rasa Suzy sudah menjawab teleponnya.

“Bukan urusanmu!”

“Dimana?”

“Sudah kubilang bukan urusanmu!”

“Aku tanya kau dimana??!!!” Myungsoo meninggikan frekuensi suaranya hingga terdengar sebagai sebuah teriakan keras.

“Tersesat”

“Tersesat dimana?”

“Bila aku mengetahui tempat ini maka aku tak akan mengatakan padamu kalau aku tersesat, bodoh!!!”

“Aku akan mencarimu!”

“Tidak perlu!”

“Aku akan tetap mencarimu!”

“Kau tidak mendengar ucapanku? Aku bilang tidak perlu!”

“Lalu apa maumu?”

“Aku bisa mengurus diriku sendiri  dan kau, urus saja dirimu sendiri!”

“Apa yang membuatmu seperti ini?”

“Apa maksudmu dengan ‘seperti ini’?” Suzy membalikkan pertanyaan Myungsoo.

Tuuttt..

Myungsoo memutuskan panggilannya secara sepihak. Ia memutar balik mobilnya lalu meninggalkan tempat tersebut dengan laju mobil berkecepatan super.

 

<> 

Braakkk..

Myungsoo membanting pintu kamarnya begitu keras hingga jam dinding dikamarnya ambruk ke lantai dan hancur membentuk serpihan-serpihan yang lebih kecil. Myungsoo menatap geram kearah jam dinding tersebut.

“Hanya kubanting seperti itu kau sudah ambruk dan hancur? Berapa hargamu saat kubeli dulu? Benda mati sepertimu saja mudah rapuh seperti ini, lalu bagaimana dengan hatiku??!! Bagaimana dengan perasaanku??!!” Myungsoo menendang serpihan-serpihan yang masih berukuran besar dari jam dinding  tersebut ke sembarang tempat. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar, sedikit demi sedikit tubuhnya merosot kebawah hingga terduduk dilantai. Kedua lututnya menekuk keatas, matanya tak pernah berpaling dari jam yang menempel pada tangan kirinya hingga tanpa sadar sudah 6 jam lamanya ia terus seperti ini. Myungsoo menunggu istrinya pulang, namun sudah jam 11 malam Suzy tak juga kembali.

“1 jam lagi” Myungsoo berusaha menghibur dirinya sendiri.

 

1 jam berlalu…

 

“1 jam lagi” Myungsoo tersenyum getir.

 

1 jam berlalu…

 

Dan hal itu selalu terulang setiap jam demi jam berlalu hingga hari ini sudah berubah menjadi hari kemarin namun Myungsoo tetap setia pada tempatnya yang berarti juga ia tidak tidur semalaman kemarin.

Kreett..

Suara pintu terbuka terdengar sangat pelan ditelinga Myungsoo, ia yakin kali ini adalah Suzy. Dengan kilat ia bangkit dari tempatnya dan melangkah panjang kearah pintu. Belum genap setengah perjalanan langkahnya terhenti ketika Suzy kini sudah berdiri tepat dihadapannya, menatap dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Berantakan! Lusuh! Tak terawat!”

M..Myungsoo?” ucap Suzy gagap.

“Darimana?” Myungsoo mengajukan pertanyaan pada Suzy dengan raut wajah yang begitu datar.

“Ka..kau tidak ke kantor?”

“Apa kau tersesat di hutan hingga tak pulang semalaman?”

“Aku..aku..ak”

“Atau kau tersesat ditempat seseorang yang membuatmu enggan atau bahkan lupa untuk pulang?”

“Yaakk apa maksudmu?!”

“Kau tau aku tak mandi sejak kemarin? Kau tau aku tak makan sejak kemarin? Kau tau aku menunggumu sejak kemarin? Dan kau tau aku bolos ke kantor hari ini karena menunggumu?”

“Apa aku yang menyuruhmu tak mandi? Apa aku yang menyuruhmu tak makan? Apa aku yang menyuruhmu menungguku? Dan apa aku juga yang menyuruhmu bolos bekerja?”

“Aa satu lagi! Sepertinya kau mendengar perkataanku dengan sangat baik! Levelmu saat berbicara sudah meningkat!” Suzy melemparkan tas yang sebelumnya terselempang di bahu kirinya keatas ranjang kemudian meninggalkan Myungsoo begitu saja menuju kamar mandi. Myungsoo hanya bisa menatap punggung Suzy dalam diam.

“Aku melakukan ini hanya untukmu, hanya padamu” Myungsoo menunjukkan senyum yang dipaksakan pada wajahnya.

 

===

 

Suzy menyeruput habis cappuccino yang Junho buatkan spesial untuk dirinya. Saat ini Suzy dan Junho tengah bersantai ria di ruang tamu apartemen Junho. Sudah sejam yang lalu terhitung dari pukul 10.00 pagi Suzy berkunjung ke apartemen Junho, duduk diatas sofa empuk ditemani secangkir cappuccino serta earphone yang terpasang ditelinganya. Junho? Kepalanya bersandar manis diatas paha Suzy, kaki kirinya terlentang lurus diatas sofa dan kaki kanannya ia tekuk sedikit keatas, sedangkan matanya tengah terfokus pada majalah pria yang sedang ia baca, bukan majalah pria dewasa! Bila orang awam melihat maka mereka akan menganggap Suzy dan Junho adalah sepasang kekasih atau bahkan sepasang suami istri sekalipun. Namun ini adalah hal yang biasa bagi mereka, sejak pertama kali saling mengenal hingga akrab mereka sudah terlalu sering seperti ini.

Junho menutup majalah yang sedang dibacanya, tangan kanannya terulur keatas dan melepaskan earphone yang sebelumnya terpasang ditelinga Suzy. Suzy membuka matanya ketika putaran lagu-lagu ballad yang ia koleksi pada handphonenya secara perlahan mulai terdengar kecil ditelinganya.

“Kau mengganggu aktivitasku” Suzy menatap malas kearah Junho saat menyadari ini adalah ulah laki-laki itu.

“Bagaimana dengan masalahmu? Jangan membiarkan masalah berlarut-larut hinggap dalam hidupmu” Junho menatap balik kearah Suzy.

“Aku tau”

“Lalu?”

“Seminggu belakangan ini dia selalu pulang malam, bahkan hari minggu seperti ini pun dia mengatakan ada kerjaan yang harus ia selesaikan sehingga ia harus ke kantor dihari minggu. Aku tau dia berbohong, dia pasti menemani wanita itu dan calon anaknya kan? Mengajak wanita itu jalan-jalan? Membelikan wanita itu vitamin? Membelikan wanita itu susu untuk ibu hamil? Membelikan baju untuk calon anaknya?

“Kau cemburu dan kau mencintainya”

“Ti.. tidak!”

“Berbohong pun sia-sia”

“Sudah kubilang tidak!!”

“Baiklah, lalu apa rencanamu?”

“Cerai..mungkin?” jawab Suzy bebas.

“Lalu menikah denganku?” ucap Junho asal yang mendapat tatapan horor dari Suzy.

“Bila kau berani mengucapkan kalimat itu lagi maka aku tak akan segan-segan membakar apartemenmu ini tengah malam saat kau sedang tertidur lelap sehingga kau juga ikut terbakar didalamnya!”

Junho hanya bisa tertawa mendengar jawaban Suzy, sekriminal itukah?

“Kau tidak bisa membedakan yang mana bercanda dan yang mana serius?”

“Kumohon tidak untuk saat ini”

“Baiklah anggap yang tadi adalah pemanasan dariku, sekarang aku hanya ingin menyampaikan pendapatku saja meski aku tau kemungkinan kau mau menerima pendapatku hanya sekitar 25 persen saja seperti biasanya” kini Junho bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk di sebelah Suzy pertanda bahwa ia akan melakukan perbincangan serius dengan Suzy.

“Pertama, kau juga seorang karyawan perusahaan jadi kurasa kau tau pulang malam adalah hal yang biasa karena lembur dan kau harus tau saat kau cuti hampir 2 minggu lamanya aku harus lembur untuk mengerjakan tugasmu yang kau tinggal begitu saja. Kedua, appamu adalah Presiden Direktur di perusahaannya, Myungsoo yang mengambil alih tugas dan posisinya sekarang, banyak beban pekerjaan yang harus ia tanggung, jadi bekerja dihari Minggu sangat wajar baginya dan kau harus tau lagi Presdir di perusahaan kita jauh lebih parah dari Myungsoo, ia bahkan hampir seminggu tak pulang menemui istrinya saat kebangkrutan hampir melanda perusahaan kita dulu.

Plaakk..

Sebuah pukulan keras Suzy layangkan di kepala Junho.

“Apa yang kau lakukan? Aku berbicara serius padamu dan kau malah membalasnya dengan memukulku?!!” Junho mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit karena pukulan Suzy tadi.

“Siapa sahabatmu? Aku atau Myungsoo? Kenapa kau malah membelanya?!!”

“Aku tidak membela siapa-siapa, aku hanya ingin menyampaikan pendapatku dari sisi laki-lakinya saja. Ingat!! Berhenti berfikir bila seorang laki-laki pulang larut saat bekerja itu artinya dia sedang selingkuh! Kau salah! Ada tujuan yang ingin mereka capai dari kerja kerasnya itu, salah satunya tentu membahagiakan orang-orang yang mereka cintai!”

“Orang yang mereka cintai?” Suzy tersenyum getir.

“Tentu saja wanita itu dan calon anak mereka, iya kan?” Suzy melanjutkan kalimatnya.

Junho melengos, tidak! Bukan itu respon yang Junho harapkan dari suzy. Panjang lebar Junho menjelaskan setidaknya ia ingin mengubah pikiran negatif Suzy tentang Myungsoo menjadi hal-hal yang lebih positif, tapi kenyataannya justru berbanding terbalik.

“Terserah kau saja!” Junho menghempaskan tubuhnya dan lebih memilih untuk memejamkan matanya dan tertidur diatas paha Suzy.

 

<> 

Myungsoo memarkirkan mobilnya pada garasi mobil, kakinya melangkah panjang menuju pintu teras saat ia sudah keluar dari mobilnya, entahlah tapi ia ingin cepat-cepat masuk kedalam. Langkah Myungsoo terhenti saat melihat Suzy yang sedang duduk manis di sofa ruang tamu rumah mereka. Dilihatnya tangan Suzy dengan cekatan mengetik kata demi kata pada handphone yang sedang dipegangnya. Diwaktu yang bersamaan bibirnya tak pernah berhenti tersenyum lebar seiring dengan rentetan kata yang sudah ia rangkai pada pesan tersebut percis seperti remaja yang sedang dimabuk asmara ketika menerima pesan-pesan romantis dari pacarnya.

“Bahkan kau tak sadar aku pulang?” Myungsoo tersenyum hambar dan pergi meninggalkan Suzy tanpa berniat mengganggu aktivitasnya. Namun dalam hitungan beberapa menit ia kembali lagi.

“Ikut aku” Myungsoo menarik tangan Suzy yang saat ini masih sibuk bermain-main dengan handphonenya seperti ketika Myungsoo baru datang tadi.

“Kemana?” Suzy berusaha melepaskan tarikan tangan Myungsoo pada pergelangan tangannya.

“Aku belum makan malam dan dikulkas sama sekali tak ada makanan”

“Pergi saja sendiri, aku tidak mau!”

“Harus mau”

“Aku tidak lapar!”

“Aku lapar”

“Hubungannya denganku?”

“Aku ingin ditemani”

“Harus aku? Kenapa tidak suruh orang lain saja untuk menemanimu?”

“Siapa yang kau maksud dengan orang lain?”

“Kupikir kau sudah tau jawabannya”

“Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini pada suamimu? Ini yang kau bilang akan berusaha menjadi istri yang baik?”

“Siapa? Kau sendiri yang membuatku seperti ini”

“Apa salahku?”

“Kau bertanya apa salahmu? Jadi kau belum mengetahui apa salahmu?”

“Belum”

“Kau!” Suzy mendelik tajam.

“Pakai ini” Myungsoo tak mengindahkan delikan mata Suzy, ia memasangkan jaket tebal yang sudah ia siapkan untuk istrinya itu.

“Lapar dan emosi adalah 2 hal yang saling bersinergi, kita makan dulu” Myungsoo menarik tangan Suzy dan menggandengnya dengan erat ketika jaket itu sudah terpasang dengan sempurna. Suzy menatap wajah Myungsoo kesamping ketika ia melepaskan genggaman itu namun Myungsoo menariknya kembali dan menyembunyikan tangan Suzy di saku jaket tebal berwarna hitam yang ia kenakan.

“Aku tak mau kau kedinginan” Myungsoo semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Suzy dari dalam saku jaketnya itu, namun kali ini Suzy menarik kasar tangannya dari genggaman Myungsoo.

“Berhenti memaksaku! Kau selalu melakukan ini padaku! Aku tak mau pergi dan kau bisa pergi sendiri!”

Myungsoo menghela nafas sejenak, ia berusaha menahan emosi yang juga sedang meluap-luap dihatinya.

“Aku sangat ingin pergi bersamamu, tak usah pergi makan malam juga tak masalah, yang penting kau mau pergi bersamaku, kemana pun yang kau mau” gerakan dan ucapan Myungsoo melembut, tangannya kini bergerak pelan untuk meraih tangan Suzy namun lagi-lagi Suzy menepisnya.

“Aku tetap tidak ma” ucapan Suzy terpotong oleh sebuah deringan kecil dan singkat dari handphone yang sebelumnya ia letakkan diatas meja depan sofa yang ia duduki tadi. Matanya melirik sesaat kearah Myungsoo, begitupun dengan Myungsoo. Kini kedua mata mereka sama-sama terarah pada handphone Suzy, tangan kanan Suzy terulur untuk meraih ponselnya namun sayang Suzy telat, gerakan tangan Myungsoo nyatanya jauh lebih cepat dari Suzy.

“Yaakk kemarikan ponselku!” Suzy berusaha merebut ponselnya dari tangan Myungsoo.

“Ada pesan, biarkan aku membacanya dulu” Myungsoo berusaha menghalangi tangan Suzy yang sangat bernafsu mengambil ponselnya.

“Kau tidak sopan! Itu privasiku! Kau tidak boleh membaca-baca pesanku!”

Myungsoo sama sekali tak mempedulikan ucapan-ucapan Suzy, ia tetap pada pendiriannya. Penasaran! Myungsoo penasaran! Myungsoo ingin tau apa yang membuat istrinya ini tersenyum sumringah tiap kali ia sedang menerima ataupun membalas pesan.

 

1 New Message — Read

From : Nuneo Nuneo Oppa

Aku tak mau tau, lain kali kau harus menginap lagi ditempatku! Kau tau kan aku ini kesepian, aku laki-laki kesepian huuuaaaa T.T

 

Kini rasa penasaran Myungsoo akhirnya hilang, berganti dengan sebuah tatapan tajam yang ia arahkan pada Suzy.

Braakkkk…

Myungsoo membanting kasar ponsel Suzy kesembarang tempat.

“Handphoneku!!!!” Suzy berseru panjang, matanya membulat lebar, sebulir air mata kini menetes dari kedua matanya melihat handphone kesayangannya sudah tak berbentuk handphone dan hancur berkeping-keping. Suzy mengalihkan pandangannya, ia menatap horor mata Myungsoo, kali ini tatapannya bahkan jauh lebih tajam dari tatapan Myungsoo.

“Kau tau handphone itu dibeli dengan uang?!!” Suzy berteriak tepat didepan wajah Myungsoo.

“Kau tau itu adalah handphone pertamaku yang kubeli dengan uang ku sendiri, keringatku sendiri??!!!” Suzy kembali mencerca Myungsoo. Myungsoo? ia tetap diam tak bergeming namun matanya tetap terfokus pada tatapan horor Suzy.

“Aku marah bukan karena berapa harga handphone itu, tapi aku marah karena banyak makna yang ada pada sebuah benda kecil yang baru saja kau hancurkan itu, kau tau??!!!” Suzy mengusap kasar air matanya.

“Kenapa kau diam? Mana pem”

“Laki-laki mana yang tak marah mengetahui istrinya sendiri menginap di tempat laki-laki lain? Hanya berdua? Kau ini sudah memiliki suami, kau tau??!!!!” Kini giliran Myungsoo yang berteriak tepat didepan wajah Suzy.

“Kau serakah!! Apa aku tak boleh memiliki teman lelaki? Apa aku harus berdiam diri dirumah dan meratapi nasibku? Bagaimana denganmu? Wanita itu! Anak itu! Siapa yang lebih merasa sakit, hah??!!”

“Wanita? Anak? Apa yang kau maksud? Apa kau berusaha mengalihkan pembicaraan??!!”

“Kau brengsek! Aku membencimu! Aku tak mau melihatmu! Lenyap dari penglihatanku! Ah tidak, aku yang akan lenyap dari penglihatanmu!” Suzy pergi meninggalkan Myungsoo begitu saja.

Untuk beberapa detik otak Myungsoo seperti berhenti bekerja dan tak dapat berpikir, namun beberapa saat kemudian ia pergi dan berlari untuk mengejar Suzy.

“Tunggu!” Myungsoo menarik tangan Suzy ketika ia telah berhasil mengejar Suzy yang saat ini posisinya baru berjarak 10 meter dari rumah mereka.

“Lepaskan aku!” Suzy menepis tangan Myungsoo.

“Ikut aku!” Myungsoo menarik paksa tangan Suzy dan membawanya pulang.

“Lepaskan! Kau menyakiti tanganku!” berulang kali Suzy berusaha melepaskan tarikan itu namun hasilnya sia-sia, Myungsoo justru semakin mengeratkan tarikannya.

“Masuk” Myungsoo menggiring Suzy masuk kedalam mobil mereka begitupun juga dengan Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan? Kau mau membawaku kemana?!!”

Tak ada jawaban dari Myungsoo, ia mulai menancap gas dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan super ala pembalap profesional yang sedang berlaga di medan perangnya. Suzy tak berani menoleh kemanapun, ia lebih memilih menutup kedua matanya dan menunduk dalam diam. Kedua tangannya tak pernah berhenti meremas blouse biru muda yang ia kenakan.

“Bila waktuku meninggalkan bumi ini adalah hari ini aku akan siap, itu artinya aku bisa menemui orangtuaku lagi” gumam Suzy pasrah.

Ciittt..

Suara gesekan antara ban mobil dengan aspal jalan begitu nyaring terdengar, Myungsoo mengerem mendadak. Suzy membuka sedikit demi sedikit kedua matanya, ia menarik nafas panjang untuk menenangkan jiwanya yang sedikit..terguncang? karena ulah laki-laki gila yang sedang mengendarai mobilnya, setidaknya gila adalah kata pertama yang muncul dipikiran Suzy saat ini. Suzy menoleh ke samping namun tak ada orang, ia terlonjak kaget saat tiba-tiba Myungsoo membukakan pintu untuknya dan menariknya keluar dari mobil. Myungsoo menggiring Suzy masuk ke sebuah rumah 1 lantai yang tampak sepi dengan design rumah yang tampak kuno belum mengalami pembaharuan seperti rumah masa kini tanpa memberikan celah sedikitpun bagi Suzy untuk mengelak.

Tokk.. tokk.. tokk..

Myungsoo mengetuk pintu depan rumah itu tiga kali namun tak ada satu orang pun si pemilik rumah yang keluar. Myungsoo kembali mengulangi hal yang sama hingga ketukan ke 7 akhirnya seseorang membukakan pintu itu. Gadis cantik berambut panjang dan pirang, Suzy memincingkan sedikit matanya.

“Jiyeon-ah” ucap Myungsoo pada wanita yang ternyata bernama Jiyeon itu, Park Jiyeon.

“Myungsoo oppa?” Jiyeon menatap kaget kearah Myungsoo, berkunjung diwaktu malam seperti ini? Kini pandangan Jiyeon beralih menatap Suzy.

“Dia…”

“Kita ke Jepang sekarang juga! Menemui orangtuamu! Selesaikan urusan ini!” sambar Myungsoo tiba-tiba membuat kedua mata Suzy dan Jiyeon membulat lebar.

“A..apa?”

 

=TBC=

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

23 thoughts on “My Ice Prince Myungsoo [Part 4]

  1. Ping balik: My Ice Prince Myungsoo [ Part 9 ] | SuzyBae's World Fanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s