My Ice Prince Myungsoo [Part 3]

Untitled-2

 

 

  • Title : My Ice Prince Myungsoo Part 3
  • Script Writer : Kim Soo Kyung
  • Main Cast : #Bae Suzy #Kim Myungsoo
  • Support Cast : Find by your self
  • Genre : Marriedlife, Romance, Etc.
  • Length : Short Story/ Short Chapter
  • Disclaimer : Pertama kalinya buat  FF yang bagian akhirnya ada kata “TBC” , biasanya cuma main diseputaran oneshoot 😀 semoga FF ini bisa diterima, maaf kalau kurang memuaskan : )

 

Previous Part : [Part 1] , [Part 2]

 

==Part 3==

 

07.00 PM KST

Gadis itu, Suzy! Sudah hampir 2 jam badannya bertengger manis diatas sebuah kursi yang terletak di balkon kamar miliknya dan Myungsoo. Kedua matanya tampak menerawang jauh keatas langit malam tak berbintang karena diselimuti kabut mendung.

“Myungsoo oppa, aku..aku.. aku hamil”

“A..apa??”

“Bagaimana ini? Eomma dan appa akan memecatku sebagai anak mereka karena aku hamil sebelum menikah, hiks.. hiks.. hiks..”

Setidaknya percakapan itu yang selalu terngiang ditelinga Suzy sejak tadi, meski samar-samar namun frekuensi suara Myungsoo dan gadis itu sudah terlalu cukup menusuk-nusuk gendang telinga Suzy siang tadi.

“Appa, sepertinya kau salah bila menitipkan anak gadismu ini pada laki-laki dingin itu, dia bahkan akan menjadi seorang ayah dari perempuan lain” Suzy tersenyum hambar, namun diwaktu yang sama pula air matanya sedikit demi sedikit keluar tanpa ia minta.

“Apa yang kau tangisi dari laki-laki dingin itu? Dia bahkan menikahimu hanya karena sebuah perintah dan tak lebih dari itu!” Suzy mengusap kasar air matanya dengan kedua tangannya.

“Aku akan mundur, gadis dan anak yang sedang tumbuh dirahimnya kini bahkan jauh lebih membutuhkan Myungsoo! Bukan begitu.. appa?” Suzy kembali memusatkan pandangannya pada langit gelap malam itu.

Cittt..

Sebuah bunyi yang timbul karena gesekan antara ban mobil dengan permukaan jalan beraspal begitu nyaring terdengar ditelinga Suzy. Suara itu sangat rutin ia dengar setiap jam 7 malam yang menandakan bahwa Myungsoo sudah pulang dari kerjanya. Entah berapa kecepatan yang ia gunakan setiap kali mengendarai mobil sehingga harus mengerem sekeras itu saat mobilnya sudah sampai di gerbang pintu.

Suzy, tanpa berpikir panjang ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja, menarik selimut tebal dan menenggelamkan seluruh tubuhnya dibalik selimut. Ini adalah pilihan yang tepat untuk menghindar, setidaknya itu yang Suzy pikirkan.

Kreett..

Perlahan pintu kamar Suzy mulai terbuka dan derap langkah kaki seseorang mulai terdengar kian mendekat, Suzy tau itu adalah Myungsoo, siapa lagi?

“Baiklah.. Suzy-ah, saatnya berakting!” Suzy berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.

Blusss..

Suzy merasakan tubuhnya tak lagi hangat, ada sedikit desiran angin yang ia rasakan pada sekujur tubuhnya yang mau tak mau membuatnya harus sedikit membuka mata untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Myungsoo! Ini ulah Myungsoo! Ia menarik selimut yang membungkus seluruh tubuh Suzy kemudian melemparkannya begitu saja dengan sembarang ke lantai.

“Aku tau kau pura-pura tidur” kalimat itu berhasil membuat Suzy menelan salivanya sendiri. Dengan posisi tubuh berbaring dan dengan mata yang masih terpejam ia berusaha untuk bersikap tenang meski dalam hatinya ia sedang mengumpat kesal.

“Bagaimana dia bisa tahu?”

“Bangun” Myungsoo kembali mengeluarkan suaranya namun Suzy masih tetap bertahan pada posisinya.

“Haahh” Myungsoo menghembuskan nafasnya panjang. Ia menekuk kedua kakinya kebawah membentuk pola silang dan sekarang ia sudah duduk bersila dilantai tepat disamping ranjang sebelah kanan dimana Suzy berbaring tidur, tubuh mereka saling berhadapan dengan posisinya masing-masing.

“Mungkin kau benar-benar sudah tidur”

“Kau yang membuatku harus berpura-pura tidur seperti ini!!” Suzy menjawab pertanyaan Myungsoo dalam hati. Susah payah ia berusaha agar akting tidurnya terlihat natural, posisi Myungsoo tepat berada dihadapannya kini, sedikit saja ia menggerakkan bola matanya kekanan dan kikiri maka Myungsoo akan benar-benar tahu kalau ia tidak tidur.

“Kau membuatku sedikit kecewa” Myungsoo kembali melanjutkan kata-katanya.

“Hanya sedikit kan? Kau membuatku banyakkkk kecewa!!!”

“Pertama, kau tidak menyambutku saat aku pulang dari kantor. Kedua, kau tidak menyiapkan makan malam untukku. Ketiga, kau tidur duluan meninggalkanku begitu saja. Keempat, tadi pagi kau yang memasangkan dasi ini harusnya kau juga yang melepaskan dasi ini sekarang”

“Aigoo, ini bukan 4 kata lagi tapi sudah 4 kalimat! Kenapa bicaranya tak irit lagi? Kim Myungsoo kau mulai pandai berbicara sekarang?” lagi-lagi Suzy menjawab setiap kalimat yang Myungsoo lontarkan meski ia menjawabnya dalam hati.

“Kau tahu tidak? Aku sudah merasa lapar sejak jam 5 sore tadi, tapi aku bahkan menolak ajakan para staff dikantor yang mengajakku untuk makan diluar karena aku yakin pasti kau sudah menyiapkan makan malam untuk kita jadi aku menahan rasa laparku hingga aku pulang. Naas nya ketika aku pulang keadaan meja makan sepi tak berpenghuni”

“Apa aku harus peduli? Sejak kapan kau cerewet seperti ini eoh?”

“Dan kau tahu? Ini sudah yang ke 5 kalinya perutku berbunyi!” Myungsoo melipat kedua tangannya diatas ranjang disamping tubuh Suzy lalu menopangkan dagunya diatas tangannya itu seraya menatap wajah Suzy yang tampak sedang tertidur di penglihatan Myungsoo.

“Suzy-ah, aku.. aku.. aku sangat merindukanmu, aku ingin selalu melihat wajahmu setiap saat” Myungsoo mengangkat sedikit tangannya, mengusap helai demi helai rambut panjang Suzy dengan lembut.

“Kau masih bisa mengatakan kau merindukanku? Pikirkan dulu gadis yang sedang membutuhkan pertanggungjawabanmu sekarang! Dasar buaya!” emosi Suzy meluap, namun sama seperti tadi, ia hanya bisa meluapkannya dalam hati.

Seulas senyum terlukis dibibir Myungsoo, kini tangannya berpindah untuk mengusap-usap pipi Suzy.

“Rasa lapar ini bahkan tiba-tiba hilang cukup dengan hanya melihat wajahmu”

“Jadi maksudmu wajahku membuat nafsu makanmu hilang begitu?!” Suzy mengumpat dalam hati.

“Aku sendiri tak sadar, tapi ini pertama kalinya aku berbicara sebanyak dan selepas ini” Myungsoo kembali tersenyum, ia memajukan sedikit wajahnya kedepan lalu mengecup hangat dahi istrinya itu.

“Semoga tidurmu nyenyak” Myungsoo mengacak pelan rambut indah Suzy dan perlahan ia mulai bangkit dari duduknya. Mengambil selimut yang sebelumnya ia buang ke lantai dan menyelimuti seluruh tubuh Suzy seperti semula kemudian berjalan meninggalkan tubuh istrinya itu masuk kedalam kamar mandi. Merasa posisinya sudah aman, perlahan Suzy mulai membuka sedikit demi sedikit kedua matanya, menatap horor kearah pintu kamar mandi dimana Myungsoo sedang mandi sekarang.

Buukkk..

Dua buah bantal yang Suzy layangkan dengan kecepatan tinggi tepat membentur pintu kamar mandi.

“Arrgghh!!!!” Suzy mengacak kasar rambut panjangnya seraya menghentakkan kedua kakinya diatas ranjang.

 

===

 

“Kemana?” kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Myungsoo saat ia keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam kantoran yang sudah terpasang rapi ditubuhnya.

“Kerja” jawab Suzy yang saat ini sedang berdiri didepan cermin panjang disamping ranjang tidurnya seraya menyisir halus rambutnya hingga rapi dimatanya.

“Berhenti bekerja dan diam dirumah saja”

Gerakan tangan Suzy yang tengah asik menyisir rambutnya sendiri berhenti seketika. Ia melirik kearah Myungsoo berdiri melalui pantulan bayangan yang tertangkap oleh cermin yang ada didepannya.

“Kau gila!” Suzy membalikkan badannya dengan cepat dan menatap Myungsoo dengan tatapan emosi.

“Kau tahu seberapa banyak uang yang orangtuaku habiskan untuk menyekolahkanku tinggi-tinggi? Dan sekarang kau dengan mudahnya menyuruhku untuk berhenti bekerja?” Suzy melanjutkan kalimatnya.

“Bagaimana bila aku mengatakan bila itu adalah permintaan appamu?” Myungsoo melangkah maju mendekati Suzy.

“Jangan bohong!”

“Tidak” jawab Myungsoo singkat yang kini sudah berdiri saling berhadapan dengan Suzy.

“Yang pasti aku akan tetap bekerja hari ini!”

“Kau akan mengecewakan mendiang appamu juga eommamu”

“Lalu kau pikir siapa yang akan memenuhi kebutuhanku nanti bila aku berhenti bekerja, hah?” Suzy meninggikan sedikit frekuensi suaranya. Sedangkan Myungsoo, dahinya sedikit berkerut mendengar ucapan Suzy.

“Kau pikir siapa laki-laki yang sedang berdiri dihadapanmu sekarang? Tidakkah kau menganggap kalau aku suamimu? Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kau pikir aku tidak mampu membiayai semua kebutuhanmu?” Myungsoo memajukan sedikit wajahnya untuk menambah intensitasnya dengan Suzy.

“Aku bahkan tak yakin dengan ucapanmu! Bukankah ada 2 orang yang harus kau tanggung sekarang?” Suzy menurunkan frekuensi suaranya bahkan hingga terdengar seperti sebuah bisikan yang ia lontarkan dari mulutnya.

“Apa?” Myungsoo ingin mendengar lebih jelas kalimat yang Suzy ucapkan tadi karena terlalu kecilnya volume suara Suzy.

“Ti.. tidak!” Suzy menjawabnya dengan sedikit gugup.

“Aku akan tetap bekerja!!!! Aku tak akan berhenti bekerja!!!!” teriakan Suzy tepat didepan wajah Myungsoo yang secara tiba-tiba itu membuat Myungsoo terlonjak kaget. Kini matanya menatap tajam kearah Suzy tanpa berkedip sedikitpun. Suzy balik menatap tajam mata Myungsoo seolah menunjukkan bahwa ia sedang menantang Myungsoo. Namun tak sampai 5 menit Suzy mulai menundukkan kepalanya secara perlahan, Suzy kalah dengan tatapan tajam mata Myungsoo yang terlihat ‘agak’ menyeramkan bila Suzy menatapnya terlalu lama.

“Aku..aku.. aku hanya bercanda, aku akan diam dirumah saja dan berhenti bekerja” ucap Suzy ragu-ragu masih dengan wajah menunduk dan tak berani menatap Myungsoo. Tatapan tajam itu melemah, kini sebuah senyuman terlukis jelas dibibir Myungsoo seolah menyiratkan sebuah kalimat “Ya! Aku menang!” Myungsoo menggerakkan kedua tangannya keatas, menangkup kedua pipi Suzy untuk menatap wajahnya.

“Lihatlah kelangit dan rasakan eomma dan appa sedang tersenyum senang karena kalimatmu tadi. Kau adalah putri mereka yang penurut dan berbakti” Myungsoo menunjukkan senyumnya itu pada Suzy.

Takkk..

Suzy menjitak dahi Myungsoo dengan tangan kanannya.

“Kau berlebihan!” protes Suzy pada Myungsoo, sedangkan Myungsoo hanya membalasnya dengan sebuah tawa kecil.

“Sarapanku?” todong Myungsoo tiba-tiba.

“Eoh? Sa..rapan?” tanya Suzy memastikan yang dibalas dengan sebuah anggukan pasti oleh Myungsoo.

“Kau buat saja sendiri!”

“Apa?”

“Aku malas! Suruh orang lain saja! Mungkin kau memiliki teman wanita yang bisa memasakkanmu setiap hari”

“Apa maksudmu?”

“Maksud apa?”

“Kenapa kau membalikkan pertanyaanku?” protes Myungsoo.

“Siapa yang membalikkan pertanyaanmu?” Suzy mendorong tubuh Myungsoo agar sedikit menjauh dan berlenggang pergi namun Myungsoo dengan cepat menahan tangan Suzy.

“Lupakan soal sarapan, aku sudah terbiasa tidak sarapan pagi, tapi tolong pakaikan ini” Myungsoo menarik dasi yang terselempang dikerah kemejanya kemudian menyodorkannya tepat didepan wajah Suzy. Untuk sesaat Suzy hanya terdiam dan menatap dasi itu, namun beberapa saat kemudian tangannya terulur kedepan, meraih dasi tersebut dan memasangkannya dengan telaten di kerah kemeja yang Myungsoo kenakan. Myungsoo? Matanya sibuk menyaksikan setiap gerakan tangan Suzy yang begitu lincah bermain-main pada dasinya.

“Sudah selesai Tuan” Suzy menekankan kata ‘Tuan’ pada kalimatnya tadi, namun tak ada sedikitpun respon yang Suzy dapatkan dari Myungsoo. Laki-laki ini hanya terfokus pada gerakan bibir Suzy saat sedang berbicara tadi. Entah apa yang Myungsoo pikirkan, tapi semenjak kejadian beberapa minggu yang lalu dimana dengan segenap keberanian yang dimilikinya ia berani mencium Suzy, sejak saat itu tiap kali ia berbicara dengan istrinya ini dengan jarak yang begitu dekat, sorot matanya seolah tak bisa berpaling dari bibir merah merekah yang dimiliki istrinya. Ingin menyesapinya jauh lebih dalam dan jauh lebih dalam lagi, namun sayang keberanian yang ia dapatkan waktu itu tidak Myungsoo dapatkan saat ini sehingga ia hanya bisa menelan salivanya sendiri tiap kali ia melihat bibir Suzy.

“Apa yang kau pikirkan?” Suzy melambaikan tangan kanannya ke kanan dan ke kiri setelah menyadari Myungsoo tak kunjung merespon ucapannya yang membuat lamunan Myungsoo akhirnya buyar.

“A..ani” jawab Myungsoo tersendat.

“Boleh aku melanjutkan tidurku? Tugasku sudah selesai” tanpa menunggu jawaban Myungsoo, Suzy melenggang pergi meninggalkan Myungsoo begitu saja.

“Kau tidak ingin mengantarku hingga depan? Aku akan berangkat sekarang”

“Tidak”

Myungsoo menunduk, ia menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Baiklah” Myungsoo mulai melangkah pergi, namun belum genap 5 langkah ia berhenti sejenak dan berbalik menatap Suzy yang kini sudah menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut.

“Kau sedikit aneh pagi ini” ucap Myungsoo pelan kemudian melanjutkan jalannya lagi. Suzy mendengar ucapan Myungsoo. Ia mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya hingga setengah badan dan melihat tubuh Myungsoo yang sudah berjalan keluar meninggalkan kamar mereka. Sebersit pikiran terlintas di kepala Suzy. Suzy meraih ponsel yang ia letakkan dibawah bantal tidurnya. Mencari sebuah nama yang sudah tersimpan pada kontaknya untuk melakukan panggilan.

“Aku ingin curhat” Suzy menyerang lawan bicaranya begitu saja saat ia merasa lawan bicaranya diseberang sana sudah mengangkat teleponnya.

“…”

“Jangan banyak tanya!”

“…”

“Aku berhenti bekerja”

“…”

“Aku akan menceritakan semuanya nanti”

“…”

“Aku tak mau tahu! Kau harus menemuiku atau kita tak akan pernah bertemu bahkan sampai aku mati nanti!”

“…”

“Tempat biasa jam makan siang!” Suzy mengakhiri panggilannya dengan segera.

 

<> 

 

12.30 PM KST

 

Sudah hampir 30 menit lamanya Suzy menunggu seseorang yang sangat ingin ia temui untuk saat ini namun orang itu tak juga kunjung datang. Beberapa kali ia memutar kepalanya ke kanan, ke kiri, dan ke belakang hanya untuk memastikan apakah orang yang ia tunggu sudah tiba atau belum di cafe ini. Hingga ia merasakan 2 buah tangan menutupi kedua matanya dari arah belakang.

“Aku sangat mengenal aroma tanganmu yang tak pernah berubah sejak aku pertama kali mengenalmu, jadi jangan bermain-main denganku Lee Junho!” Suzy melepaskan kedua tangan orang yang ternyata bernama Junho itu dan menariknya kedepan.

“Jadi aku ketauan ya?” Junho menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal bersamaan dengan sederet gigi putih yang ia tunjukkan melalui senyum lebarnya.

“Tentu saja! Oppa.. cepatlah duduk!” Suzy menarik kursi yang ada disampingnya kebelakang agar Junho duduk.

“Ada perlu saja kau menghubungiku, kemarin-kemarin kau kemana saja? Cuti bekerja tak memberi tau, appamu sakit kau tak memberi tau, appamu meninggal kau tak memberi tau, bahkan kau menikah juga tak memberi tau! Kau membiarkan aku mengetahui semuanya dari orang lain bukan dari mulutmu sendiri padahal ruangan kerjamu bahkan ada disebelah ruanganku! Atau paling tidak kau bisa mengabariku lewat telepon! Dan sekarang kau tiba-tiba mengatakan kalau kau berhenti bekerja? sungguh? Kau benar-benar menyakitiku hatiku sebagai sahabatmu!” Junho menepuk pelan dahi Suzy dengan telapak tangannya.

“Sudah selesai? Kapan aku bisa curhat?” Suzy tak mengindahkan ucapan Junho tadi. Junho melengos, panjang lebar ia berbicara namun reaksi yang Suzy berikan hanya itu? Tidak manusiawi sekali!

“Kau tak pernah berubah, baiklah kau boleh memulai curhatmu sekarang dan aku sudah menyiapkan pendengaranku dengan baik”

Suzy tersenyum tipis, ia menarik nafasnya sejenak dan mulai menceritakan apa yang menjadi beban dihatinya belakangan ini. Junho hanya mengangguk-anggukan kepalanya seiring dengan rentetan kalimat yang Suzy ucapkan.

“Jadi bagaimana? Aku butuh pencerahan, apa yang harus kulakukan?” Suzy menggoyang-goyangkan lengan kekar Junho sesaat setelah ia telah menyelesaikan curhatnya.

“Harusnya appamu menikahkan dirimu denganku waktu itu, aku akan menjagamu dengan baik dan tak akan membuat keadaanmu menyedihkan seperti ini”

“Yaakk sudah berapa kali kubilang aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sejak dulu, dunia akan runtuh bila aku bisa menganggapmu sebagai suamiku!”

“Aku tahu! Kau selalu mengucapkan hal yang sama tiap kali aku mengungkapkan perasaanku didepanmu. Kelas 3 SMP, kelas 1 SMA, kelas 2 SMA, kelas 3 SMA, dan terakhir saat kita kuliah kau menolakku dengan alasan itu. Tapi aku yakin aku bisa merubah anggapanmu bila aku berusaha lebih keras”

“Lee Junho oppa aku tidak ingin bercanda! Dan berhenti bernostalgia!”

“Hahahh, kau tak bisa santai sedikit? Baiklah aku akan serius! Suzy-ah terkadang apa yang menurut kita benar berdasarkan pendengaran dan penglihatan kita itu belum tentu benar berdasarkan kenyataannya. Ceritamu tadi hanya berdasarkan pandanganmu saja” kini Junho berusaha menjelaskan pemikirannya dengan bijak.

“Jadi menurutmu pendengaranku salah?” tanya Suzy dengan nada sedikit ngotot.

“Akan lebih baik kau membicarakannya baik-baik dengan Myungsoo, dan semuanya akan jelas”

“Sejak kapan kau menjadi bijaksana seperti ini?”

“Setidaknya aku sudah memberikan saran”

“Saranmu kutolak! Beri aku solusi lain yang Lebih berbobot!”

“Saran lain?Ahaaa!!” Junho mengangkat jari telunjuk kanannya keatas menyiratkan ada sebuah ide cemerlang yang sedang melintas dikepalanya.

 

<> 

 

Topi hitam, kacamata hitam, masker hitam, dan jaket hitam. Suzy dan Junho berdandan seperti layaknya mereka adalah seorang penguntit profesional yang sedang mengintai musuhnya. Mereka kini berada diseberang jalan tepat didepan kantor Myungsoo.

“Aku tak yakin Myungsoo akan keluar kantor hanya untuk makan siang” ucap Suzy pada Junho yang saat ini duduk di kursi pengemudi mobilnya sendiri.

“Siapa tau hari ini kau berunt” ucapan Junho terpotong oleh Suzy.

“Myu.. Myungsoo!” Suzy menepuk-nepuk bahu Junho.

“Oppa! Go!” dengan cekatan Junho menyalakan mesin mobilnya lalu mengikuti mobil Myungsoo yang sudah lebih dulu melaju. Junho sengaja menjaga jarak antara mobilnya dengan mobil Myungsoo kurang lebih 10 meter agar Myungsoo tak merasa curiga kalau ia sedang diikuti.

Kiiittt..

Junho mengerem mendadak saat mobil Myungsoo berhenti disebuah restaurant seafood yang kira-kira hanya berjarak 5 km dari kantor Myungsoo tadi.

“Ayo masuk!”

“Apa? Kau gila! Kita akan dituduh sebagai pencuri dengan penampilan seperti ini bila masuk kedalam!” protes Suzy.

“Yaakk, menikah dengan laki-laki itu kau menjadi bodoh sekarang! Cukup kenakan topi dan kacamatanya saja, selebihnya tetaplah normal” Junho keluar dari mobilnya lebih dulu lalu membukan pintu untuk Suzy kemudian menariknya menuju restaurant.

Kini Suzy dan Junho tepat berada didepan pintu kaca restaurant tersebut. Suzy terlonjak kaget saat melihat Myungsoo tak duduk seorang diri melainkan dengan seorang gadis berambut pirang panjang yang duduk disamping Myungsoo dan tengah menggenggam erat tangannya. Suzy tak dapat melihat wajah gadis itu karena posisi mereka berdua yang duduk membelakangi pintu restaurant.

Suzy menatap Junho sejenak.

“Kita kembali saja”

“Mungkin saja kau salah paham, terkadang menguping itu sangat menyenangkan jadi ayo masuk!” Junho menyeret tubuh Suzy masuk kedalam dengan hati-hati dan membawanya duduk tepat dibelakang meja yang Myungsoo dan gadis itu duduki. Suzy membelakangi Myungsoo dan Junho membelakangi gadis yang duduk disebelah Myungsoo.

“Oppa,, kapan kau akan menemui orangtuaku? Kumohon bergeraklah dengan cepat”

“Dalam waktu dekat ini”

“Kapan?”

“Setelah urusanku selesai”

“Urusan apa?”

“Kau tak perlu tau, hanya bersabar sedikit maka masalah ini akan cepat selesai”

Cukup sudah, telinga Suzy sudah terlalu panas bila harus mendengar percakapan 2 orang dibelakangnya itu lebih lama. Suzy menatap horor kearah Junho, Ia menarik kasar tangan Junho dan menggiringnya keluar menuju mobil mereka.

“Masih berani berbicara kalau pendengaranku salah eoh?!” Suzy melepas topi yang ia pakai dan melemparnya secara sembarang ke jalan.

“Apa yang tadi belum jelas? Apa aku perlu ke dokter THT?” Suzy melakukan hal yang sama pada kacamatanya. Tak ada jawaban dari Junho, tangan kanannya ia angkat keatas dan membentuk huruf V pada jarinya.

“Aku tak mau pulang! Aku mau menginap di apartemenmu saja!”

“A..apa?”

“Kenapa? Kau keberatan? Tidak boleh? Baiklah aku masih banyak memiliki teman! Menyewa hotel juga tidak masalah untukku!”

“Bu..bukan! Hanya saja ini seperti mimpi, kau dan aku? berdua? Aahh ini sangat romantis..”

Plaakkk..

Suzy memukul kepala Junho dengan kasar.

“Apa yang kau pikirkan eoh?”

“Appo!” Junho mengusap-usap kepala bekas pukulan Suzy.

“Sebagai tuan rumah aku akan melayanimu dengan baik, ayo!” Junho menarik tangan Suzy masuk kedalam mobil.

Disisi lain, Myungsoo seperti melihat seseorang yang tak asing lagi baginya saat matanya tak sengaja menengok ke belakang sehingga pemandangan diluar restaurant sangat terlihat jelas dari dalam karena pintu kaca yang digunakan.

“Su..zy?” Myungsoo mendorong kursinya kebelakang kemudian bangkit untuk mengejar Suzy.

“Kau mau kemana?” gadis itu sedikit berteriak masih dalam posisi duduknya saat Myungsoo sudah sampai diambang pintu.

“Ada urusan, kau bisa pulang sediri kan?”

“Emm ne”

Myungsoo semakin mempercepat langkahnya meninggalkan restaurant tersebut, tujuan utamanya untuk detik ini adalah mengejar Suzy. Namun sayang Myungsoo terlambat, Suzy sudah pergi dengan laki-laki yang Myungsoo tak dapat menangkap dengan jelas bagaimana wajahnya. Tanpa berpikir panjang Myungsoo masuk kedalam mobil, dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia tak kehilangan jejak. 45 menit Myungsoo sudah seperti seorang polisi yang sedang mengejar nara pidana yang kabur dari tahanannya. Myungsoo pikir ia satu-satunya orang yang bisa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tanpa hambatan sedikitpun tetapi diatas langit masih ada langit, nyatanya orang yang sedang Myungsoo kejar ini jauh lebih luar biasa ketimbang dirinya. Myungsoo menghentikan mobilnya ketika mobil didepannya berhenti disebuah apartemen elite. Jarak mobil Myungsoo dengan mobil yang Suzy naiki hanya sekitar 5 meter, perlahan Myungsoo dapat melihat Suzy keluar dari mobil itu disusul dengan seorang laki-laki tampan, bertubuh kekar, putih, namun matanya hampir tak terlihat karena bentuknya yang sipit tengah tersenyum cerah kepada istrinya. Myungsoo seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, laki-laki itu?

“Dia..”

“Lee Junho?!!”

“Apa kau ingin mencoba mengejarnya lagi?!!!” sorot mata tajam kembali terpancar dimatanya, Myungsoo mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

 

=TBC=

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

18 thoughts on “My Ice Prince Myungsoo [Part 3]

  1. Ping balik: My Ice Prince Myungsoo [ Part 6 ] | SuzyBae's World Fanfiction

  2. Ping balik: My Ice Prince Myungsoo [Part 5] | SuzyBae's World Fanfiction

  3. Ping balik: My Ice Prince Myungsoo [Part 4] | SuzyBae's World Fanfiction

  4. Ping balik: My Ice Prince Myungsoo [ Part 7 ] | SuzyBae's World Fanfiction

  5. Ping balik: My Ice Prince Myungsoo [ Part 8 ] | SuzyBae's World Fanfiction

  6. Ping balik: My Ice Prince Myungsoo [ Part 9 ] | SuzyBae's World Fanfiction

  7. ada yg salah paham ni kayanya, ga mungkin myung yg hamilin, pas myungsoo keluar resto buru2 aja cwenya itu biasa aja. kata aku sih myungsoo udh suka suzy dari lama, itu dia tau lee junho *sotoyah XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s