My Ice Prince Myungsoo [Part 1]

Untitled-2

  • Title : My Ice Prince Myungsoo Part 1
  • Script Writer : Kim Soo Kyung
  • Main Cast : #Bae Suzy #Kim Myungsoo
  • Support Cast : Find by your self
  • Genre : Marriedlife, Romance, Etc.
  • Length : Short Story/ Short Chapter
  • Disclaimer : Pertama kalinya buat  FF yang bagian akhirnya ada kata “TBC” , biasanya cuma main diseputaran oneshoot 😀 semoga FF ini bisa diterima, maaf kalau kurang memuaskan : )

 

==Check This Out==

Hari pertama musim semi di minggu pertama bulan Mei. Bunga-bunga mulai bermekaran secara serentak disetiap sudut kota Seoul seolah menambah keindahan kota yang memang sudah indah itu. Senang, orang-orang menyambutnya dengan senang hati namun tidak dengan Suzy, gadis ini tengah sibuk menyiapkan perlengkapan-perlengkapan yang kira-kira dibutuhkan oleh appanya, satu-satunya orangtua yang ia milliki untuk saat ini. Fisiknya lelah, hatinya pun juga! Ini sudah hari ke-14 appanya dirawat di rumah sakit karena penyakit komplikasi namun bukannya membaik tapi kodisinya justru kian memburuk. Suzy terlalu takut, takut kalau appanya akan menyusul eommanya yang sudah lebih dulu pergi juga karena penyakit komplikasi yang dideritanya 1 tahun lalu. Perlahan namun pasti kakinya mulai melangkah meninggalkan rumah setelah ia rasa perlengkapan yang ia siapkan sudah cukup. Hari ini seperti biasa, ia akan dengan setia menemani appanya dirumah sakit.

<>

Kreett..

Perlahan namun pasti Suzy mulai membuka knop pintu ruang inap tempat ayahnya dirawat sejak 2 minggu lalu itu. Ada yang berbeda, biasanya tiap kali ia mulai membuka pintu itu secara perlahan yang pertama kali ia lihat pastilah appannya, tapi sekarang appanya tidak sendiri, berdua! Laki-laki Itu mungkin seumuran dengan Suzy, ah tidak! Lebih tua? Sedikit sepertinya! Tampan, namun tatapannya sangat datar. Bibirnya tipis, dan matanya tidak begitu besar. Ia tampak serius berbicara dengan laki-laki yang tengah terbaring lemah itu.

“Eoh? Suzy-ah kemarilah,,” suara serak mulai meluncur dari mulut Tn. Bae, ayah Suzy yang akhirnya menyadari jika putri satu-satunya itu tengah berdiri diambang pintu lengkap dengan tas besar yang ia bawa pada tangan kanannya.

“Ah ne appa,,” sahut Suzy kemudian dan berjalan perlahan kearah ranjang medium berbentuk persegi panjang tempat appanya berbaring kini.

Tn. Bae kini menggenggam erat kedua tangan putrinya itu, menatap dalam mata indah anaknya.

“Sebelum eommamu pergi, aku sudah berjanji akan menjaga dan merawatmu, tapi kurasa aku tak bisa menepatinya…”

“Appa..” ucap Suzy lirih.

“Menikahlah dengannya, dia anak sahabat appa yang juga sudah meninggalkanku lebih dulu, dia satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk menjagamu”

“Appa,,” butiran-butiran air mata itu pada akhirnya tumpah secara perlahan di pipi mulus Suzy.

“Jeball.. maka hidupku akan tenang,,”

“Andwae,, appa akan selalu menjagaku, appa harus menepati janji itu..”

===

Pagi ini, di sebuah gereja kecil tengah berlangsung sebuah pernikahan. Tidak ada pesta mewah, semua serba sederhana. Tak ada tamu undangan, hanya seorang Pastur, sepasang pengantin, dan seorang laki-laki tua yang harus duduk di kursi roda karena kondisinya yang masih tetap tak membaik, Tn. Bae. Janji itu pada akhirnya telah mereka ucapkan satu sama lain. Kim Myungsoo nama laki-laki itu kini sudah menjadi seorang suami dari gadis cantik berambut panjang Bae Suzy. Tn. Bae, ia menggenggam erat satu tangan Myungsoo dan satu tangan Suzy kemudian menyatukan genggaman itu.

“Sekarang hatiku tenang, beban dikepalaku bahkan sepertinya sudah hilang, tapi ada yang ingin kudengar dari mulutmu Myungsoo-ah, kau.. bisakah kau berjanji untuk menjaga putri kesayanganku  ini dengan baik? Tidak menyakitinya? Membuatnya bahagia?”

“Ne.. Appa..” jawab Myungsoo.

Tn. Bae tersenyum, kini pandangan matanya beralih menatap lemah Suzy.

“Suzy-ah, jadilah istri yang baik baginya, seperti eommamu.. berjanjilah padaku, ne?”

“Ne,, Appa..” suara Suzy terdengar bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Perlahan mata Tn. Bae mulai tertutup dengan sempurna tetapi tidak dengan senyumnya, senyum diwajahnya tak kunjung mengendur. Gereja kecil ini menjadi saksi bahwa ia telah pergi, pergi dengan tenang dengan sebuah senyuman yang terukir indah diwajahnya.

“Appa ireonna.. Yaakk appa.. hiks.. hiks.. hiks..” tangisan itu pada akhirnya pecah. Suzy mengguncangkan tubuh appanya kasar. Myungsoo? ia pun juga menangis, menangis tanpa suara namun linangan air mata mengalir deras dipipinya. Lagi, ia harus kehilangan orang tuanya, meski bukan orang tua kandung tapi ia sudah menganggap Tn. Bae sebagai appanya sendiri terlebih setelah kedua orangtuanya meninggal, meninggalkan dirinya seorang diri.

===

Myungsoo menggenggam erat pergelangan tangan Suzy dan menggiringnya masuk kedalam sebuah rumah tidak terlalu mewah tapi juga tidak terlalu sederhana.

“Ini rumah siapa?” Suzy menoleh kearah Myungsoo saat mereka tengah duduk disebuah kursi panjang taman rumah tersebut.

“Appamu” jawab Myungsoo singkat.

“Tapi appa tidak pernah cerita padaku”

“Kejutan”

“Dari mana kau tahu?”

“Appamu”

“Boleh aku bertanya?”

“Katakan”

“Mengapa kau mau menikahiku?”

“Karena itu perintah appamu”

“Kenapa kau mau menuruti perintahnya?”

“Karena dia sudah kuanggap appaku, semenjak kedua orangtuaku meninggal hanya dia sahabat orangtuaku yang masih perduli denganku. Dia bahkan mengajakku bergabung di perusahaannya dan menyuruhku merawat rumah ini sampai saat kau yang akan menempatinya. Aku, sampai mati tak akan pernah melupakan jasanya”

“Appa.. Kau adalah malaikat, hiks.. hiks.. hiks..” Suzy kembali meneteskan air matanya, ia terhanyut mendengar ucapan Myungsoo, ia kembali mengingat appanya yang kini sudah tak bisa ia lihat lagi.

“Berhenti menangis, appa tak akan tenang disana bila kau masih menangisinya” Suzy terdiam, ia menatap Myungsoo sejenak lalu mengusap kasar air matanya.

“Kau benar, appa.. lihat! Putrimu ini tidak akan menangis lagi, meski aku tak bisa melihatmu tapi aku yakin kau melihatku dari atas sana, iya kan? kau lihat sekarang aku sedang tersenyum kan?” Suzy mendongakkan kepalanya keatas menatap langit luas yang mulai gelap dengan sebuah senyuman kecil terukir dibibirnya. Disisi lain, Myungsoo juga tersenyum, senyum simpul yang ia sunggingkan saat menatap langit bersama dengan gadis yang menjadi istrinya kini.

“Masuklah” suara Myungsoo keluar tiba-tiba.

“Eoh?” Suzy menoleh ke arah Myungsoo.

“Sudah malam” tanpa membalas tatapan Suzy, Myungsoo segera bangkit dari duduknya, ia berdiri sejenak.

“Ayo” ucapnya lagi tanpa menoleh pada Suzy yang masih duduk dibangku tersebut kemudian melangkahkan kakinya kedalam. Pada akhirnya, Suzy pun mengekor dibelakang Myungsoo untuk masuk kedalam.

<>

“Jam 7, dan kau belum makan sejak tadi siang” kini Myungsoo menatap Suzy yang tengah menyandarkan kepalanya dengan malas diatas meja makan.

“Aku tidak lapar” jawab Suzy malas, ia mengalihkan pandangan matanya kearah jendela.

“Kau harus makan”

“Sudah kubilang aku tidak lapar”

“Sudah kubilang kau harus makan”

“Kau!” Suzy menatap kesal kearah Myungsoo, sesungguhnya ia paling tak suka dipaksa.

“Menurutlah” Myungsoo mulai berjalan kearah dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan satu demi satu bahan makanan yang ada didalamnya.

“Kau mau apa?” Suzy berteriak kecil masih dengan posisinya seperti tadi.

“Memasak”

“Kau? Memasak? Bisa?” Suzy tampak tak yakin dengan jawaban Myungsoo.

“Tak hanya setahun tapi lebih dari tiga tahun, aku hidup sendiri dan melakukan semuanya sendiri” Myungsoo tersenyum kecut.

Suzy bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Myungsoo, merebut pan yang Myungsoo pegang untuk ia letakkan diatas kompor.

“Apa yang kau lakukan?” Myungsoo menoleh kearah Suzy yang saat ini berdiri tepat disampingnya.

“Aku tau kewajibanku, ini tugasku jadi menyingkirlah..” Suzy sedikit menggeser badan Myungsoo kesamping dan mengambil alih pekerjaan yang hendak Myungsoo lakukan itu.

“Apa makanan kesukaanmu?” tanya Suzy sebelum memulai memasak.

“Semua jenis makanan bisa kumakan dengan lahap saat lapar”

“Emm, baiklah karena itu jawabanmu maka aku akan memasak sesuai dengan keinginanku, tidak masalah kan?”

“Tidak”

“Lagi-lagi kata ‘tidak’ yang keluar dari mulutnya” Suzy mendengus kesal dalam hati. Myungsoo, semburat senyuman tipis terlukis dari bibirnya, entah apa yang membuatnya tersenyum. Wajah cantik Suzy? Tingkah Suzy? Atau hal lain?

“Kau tidak ada rencana untuk berpindah tempat? Menunggu di meja makan hingga masakanku ini jadi kurasa akan lebih baik” Suzy melirik kearah Myungsoo saat ia menyadari bahwa sejak tadi laki-laki itu tak melakukan gerakan sedikit pun dari tempatnya melainkan terus menatap dirinya yang sedang memasak.

“Ani..”

<>

Hening,, hanya suasana itu yang tercipta dari sepasang pengantin baru ini. Tak ada perbincangan, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing dalam diam. Myungsoo duduk di tepi ranjang bagian bawah sedangkan Suzy duduk ditepi ranjang bagian atas. Tak ada yang mau memulai pembicaraan, terkadang Suzy diam-diam mencuri pandang menatap Myungsoo namun saat Myungsoo menoleh dengan cepat ia memutar kepalanya lagi, entah berapa kali moment tersebut terulang-ulang.

“Sepertinya kita perlu saling mengenal terlebih dahulu” Suzy akhirnya mengalah dan memecah keheningan yang sempat tercipta diantara mereka.

“Emm” hanya gumaman singkat yang meluncur dari bibir Myungsoo bahkan gumaman itu ia ucapkan tanpa menoleh pada lawan bicaranya. Suzy menatapnya ngilu!

“Laki-laki dingin seperti ini yang appanya percayai untuk menjagaku? Apa tidak salah? Aku berbicara panjang namun jawabannya hanya ’emm’, ‘ya’, ‘tidak’, aahhhh aku tak yakin dia bisa membuatku bahagia! Appa,, bagaimana ini? Aku tak nyaman!” Suzy merutuk dalam hati.

“M..Myungsoo..” Suzy memberanikan diri memanggil Myungsoo.

“Ne” lagi-lagi hanya jawaban singkat yang Myungsoo berikan.

“Bisakah menjawab pertanyaanku lebih panjang ‘sedikit’ saja?” Suzy menekankan kata ‘sedikit’ pada kalimatnya tadi.

“Tidak”

Suzy membulatkan matanya lebar, ‘tidak’ sungguh hanya itu yang keluar dari mulutnya tadi? hanya ‘tidak’? Laki-laki ini!

“Semahal itukah suaramu? kata yang keluar dari mulutmu tiap kali kau berbicara bahkan bisa ku hitung dengan jariku” Suzy mendesis pelan. Myungsoo menoleh cepat kearah Suzy setelah mendengar kalimat yang Suzy lontarkan.

“Tidak juga” jawab Myungsoo seadanya.

“Lalu apa namanya?” Suzy mulai tampak kesal.

Entah sejak kapan tapi Suzy tak dapat menyadarinya, Myungsoo kini sudah bergeser dan duduk tepat disamping Suzy. Ia meraih tangan kanan Suzy dan menggenggamnya.

“Maaf bila kau tak suka, sifatku memang seperti ini, mengertilah”

Tangan Myungsoo kini bergerak ke kepala Suzy, merapikan setiap helai rambut panjang istrinya yang sebenarnya tak berantakan. Matanya, kini menatap dalam wajah Suzy yang tampak bingung akan kelakuan Myungsoo.

“Ayo” ucap Myungsoo.

“Aa..ayo? Uu.. untuk apa?” tanya Suzy gugup. Jantungnya berdegup kencang. Tidak ini terlalu dekat, sungguh! Myungsoo tak menjawab pertanyaan Suzy, perlahan ia mulai memajukan wajahnya mendekat ke wajah Suzy.

“Tidak! Tidak mungkin sekarang! Aku belum siap! Kumohon jangan mendekat lagi! Ini terlalu dekat! Menjauhlah sekarang juga, jeball!” entah apa yang Suzy pikirkan terhadap Myungsoo sekarang tapi setidaknya rentetan kalimat itulah yang sedang bergemuruh dalam hatinya tapi ia sama sekali tak berdaya untuk mengeluarkannya melalui mulutnya sendiri. Myungsoo? Sedikit demi sedikit ia telah berhasil menghapus jarak antara wajahnya dan wajah Suzy. Dan pada akhirnya…

=TBC=

Iklan

24 thoughts on “My Ice Prince Myungsoo [Part 1]

  1. sekian lama ga baca fanfic myungsoo, akhirnya nyantol sama yg ini XD
    itu myung ngmgnya irit banget ya, hemm mungkin karna harga sembako lg naik kali ya *ganyambung* XD
    okedeh lanjut ke part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s